Gambaran Autonomy pada remaja yang mengalami dampak perceraian orang tua

Elda, Yori Ambarwati (2018) Gambaran Autonomy pada remaja yang mengalami dampak perceraian orang tua. Diploma thesis, UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

[img]
Preview
Text (COVER)
1_Cover.pdf

Download (109kB) | Preview
[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
2_Abstrak.pdf

Download (101kB) | Preview
[img]
Preview
Text (DAFTAR ISI)
3_Daftar Isi.pdf

Download (222kB) | Preview
[img]
Preview
Text (BAB I)
4_BAB 1.pdf

Download (258kB) | Preview
[img] Text (BAB II)
5_BAB II.pdf
Restricted to Registered users only

Download (316kB) | Request a copy
[img] Text (BAB III)
6_BAB III .pdf
Restricted to Registered users only

Download (221kB) | Request a copy
[img] Text (BAB IV)
7_Bab IV.pdf
Restricted to Registered users only

Download (552kB) | Request a copy
[img] Text (BAB V)
8_Bab V.pdf
Restricted to Registered users only

Download (109kB) | Request a copy
[img] Text (DAFTAR PUSTAKA)
9_Daftar Pustaka.pdf
Restricted to Registered users only

Download (244kB) | Request a copy

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi karena maraknya kasus perceraian di Indonesia. Sementara jumlah kasus perceraian yang disahkan oleh Pengadilan Tinggi Agama Indonesia pada tahun 2014 mencapai 382.231, naik sekitar 131.023 kasus dibanding tahun 2010 sebanyak 251.208 kasus. Berdasarkan data Pengadilan Agama (PA) Bandung, jumlah perkara yang masuk pada tahun 2013 sebanyak 5.134 perkara, tahun 2014 jumlah perkara naik menjadi 5.684 perkara. Sedangkan, perkara yang menyebabkan perceraian pada tahun 2013 sebanyak 4.571, naik pada tahun 2014 menjadi sebanyak 4.926 perkara. Perceraian dapat menyebabkan rasa tertekan, beban dan penderitaan, baik bagi ayah, ibu, dan anak. Tetapi perceraian dapat menjadi salah satunya cara yang dipilih untuk memperoleh ketentraman diri (Ulfiah, 2016). Perceraian orang tua tidak selalu berdampak negatif terhadap remaja, tetapi dapat juga menimbulkan dampak positif diantaranya yaitu, membuat anak menjadi lebih mandiri atau mengembangkan hubungan interpersonal yang sehat dengan orang lain karena tidak ingin mengulangi pengalaman orang tuanya (Ellis dalam Roe, 1994). Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui gambaran Emotional Autonomy, Behavioral Autonomy,Value Autonomy pada remaja yang mengalami dampak perceraian orang tua. Autonomy dapat dijadikan sebagai indikator dari kematangan aspek psikologi yang menuntun seseorang untuk memutuskan bagaimana dia berpikir, merasa, dan bertindak (Steinberg, 2011). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, dengan pendekatan fenomenologi dan subjek penelitian berjumlah 3 orang. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara dan observasi dengan menggunakan guideline. Hasil penelitian menunjukan bahwa mereka mengalami dampak negatif dari sebuah perceraian, namun karena mendapat dukungan dari lingkungan, mereka dapat survive dari permasalahan perceraian kedua orang tuanya dan secara tidak langsung membentuk Autonomy pada diri mereka. Kesimpulannya dapat diketahui bahwa selama mereka menghadapi perceraian orang tuanya, gambaran dari Emotional Autonomy, Behavioral Autonomy,Value Autonomy dapat terbentuk karena adanya kesadaran dari diri sendiri untuk membuktikan kepada orang lain bahwa mereka tetap memiliki masa depan, serta mendapat dukungan dari lingkungan keluarga dan sekolah. Kata kunci : perceraian, remaja, autonomy

Item Type: Thesis (Diploma)
Additional Information: psikologi keluarga
Uncontrolled Keywords: perceraian; remaja; autonomy
Subjects: Psychology
Psychology > Philosophy and Theory of Psychology
Psychology > Psychologist
Divisions: Fakultas Psikologi > Program Studi Psikologi
Depositing User: Yori Elda Ambarwati
Date Deposited: 09 Jul 2018 08:17
Last Modified: 09 Jul 2018 08:17
URI: http://digilib.uinsgd.ac.id/id/eprint/10849

Actions (login required)

View Item View Item