Transformasi Penyebaran Konsep manunggaling Kawula lan Gusti dalam Masyarakat Jawa dari Abad ke-16 M hingga Abad ke-21 M

Afrianti, Dwi (2018) Transformasi Penyebaran Konsep manunggaling Kawula lan Gusti dalam Masyarakat Jawa dari Abad ke-16 M hingga Abad ke-21 M. Masters thesis, UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

[img]
Preview
Text (COVER)
1_cover-1.pdf

Download (202kB) | Preview
[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
2_abstrak.pdf

Download (288kB) | Preview
[img]
Preview
Text (DAFTAR ISI)
3_daftar isi.pdf

Download (594kB) | Preview
[img]
Preview
Text (BAB I)
4_bab1.pdf

Download (1MB) | Preview
[img] Text (BAB II)
5_bab2-1.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB) | Request a copy
[img] Text (BAB III)
6_bab3.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB) | Request a copy
[img] Text (BAB IV)
7_bab4.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB) | Request a copy
[img] Text (BAB V)
8_bab5.pdf
Restricted to Registered users only

Download (414kB) | Request a copy
[img] Text (DAFTAR PUSTAKA)
9_daftarpustaka.pdf
Restricted to Registered users only

Download (474kB) | Request a copy

Abstract

Konsep Manunggaling Kawula lan Gusti terdapat di dalam Serat Nawa Ruci pada zaman Jawa Pertengahan Abad ke-16 M dan ditransformasi ulang ke dalam zaman Jawa Baru di dalam Serat Dewa Ruci, Serat Cabolek, Serat Syeh Malaya, hingga abad ke-20 M di dalam Serat Sastra Jendra (Sastra Aji Endra) yang masih dipergunakan hingga sekarang. Selama rentang waktu lima abad, konsep tersebut mengalami penyimpangan makna yang jauh dari maksud dan tujuan penulisannya. Penelitian ini dianalisis dengan menggunakan landasan teori dari Filsafat Sejarah R. G. Collingwood, yang menyatakan bahwa tujuan sejarah adalah untuk mengenal diri, yang ditampakkan oleh pemikiran-pemikiran yang dimiliki para pelaku sejarah, yang, pemikiran tersebut terus berkembang sejak presuppositions (taklid) hingga absolute supposition (mengalami). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan sufistik di Jawa, transformasi penyebaran konsep tersebut di dalam beberapa naskah Jawa Islam turunan dari Serat Nawa Ruci, dan penafsirannya di dalam Serat Sastra Jendra. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode penelitian Sejarah dengan langkah-langkah heuristik, kritik, penafsiran, dan historiografi. Naskah-naskah yang dipergunakan diproleh dari memanfaatkan naskah-naskah hasil penelitian filologi maupun terjemahan yang belum pernah diteliti orang lain. Penelitian ini menemukan, bahwa di Indonesia, sufi penyebar agama Islam di Jawa berdakwah dengan memadukan tradisi lokal dengan Islam, yang berujung pada kelahiran sufistik Jawa. Konsep manunggaling kawula lan gusti memiliki pengertian yang sama dengan man ‘arofa nafsahu faqod ‘arofa Rabbahu yang merupakan hadits Nabi saw. yang mahsyur di kalangan para sufi. Keempat naskah yang dibahas memperlihatkan transformasi dalam aspek bahasa, aksara, dan bentuk, serta istilah yang dipergunakan, meskipun dengan maksud yang sama. Serat Nawa Ruci sarat dipenuhi dengan istilah dari Hindu, dan berkurang penggunaannya di dalam Serat Dewa Ruci. Di dalam Serat Cabolek, lebih banyak menggunakan istilah dari Islam; penggunaan istilah dari Hindu hanya ketika menjelaskan Serat Dewa Ruci. Serat Syeh Malaya hampir keseluruhannya menggunakan istilah dalam Islam meskipun sebagian pupuh sama dengan kisah Dewa Ruci dengan penokohan berbeda. Dua pupuh terakhir menjelaskan tentang martabat tujuh. Serat Sastra Jendra berisikan penafsiran yang merupakan penjelasan teoritis hingga tataran praktis maksud dari konsep manunggaling kawula lan gusti yang terdapat di dalam Serat Nawa Ruci, Serat Dewa Ruci, Serat Cabolek, dan Serat Syeh Malaya. ABSTRACT Dwi Afrianti.: The Transformation of Spreading the Concept Manunggaling Kawula lan Gusti in Javanese since 16th Ad. to Century to 21st Ad. The concept of Manunggaling Kawula lan Gusti was explained in the Serat Nawa Ruci from the Medieval Javanese period of the 16th Century AD and was transformed into the New Javanese period in the Serat Dewa Ruci, Cabolek, and Syeh Malaya, until the 20th Century AD in the Serat Sastra Jendra (Sastra Aji Endra) which is still used until now. Over the span of five centuries, the concept has deviated meaning away from the original purpose and objective. This study is analyzed by using the theoretical concept of R.G. Collingwood's History Philosophy, which states that the purpose of history is to recognize oneself, expressed by the thoughts of the perpetrators of history, which the thought has continued to evolve from presuppositions (absurd) to absolute supposition (experience). This study aims to determine the development of Sufism in Java, the transformation of the concept's dissemination in several Javanese Islamic texts derived from Serat Nawa Ruci, and its interpretation in Serat Sastra Jendra. The study was conducted by using historical research methods with heuristic, critical, interpretation, and historiography. The manuscripts used in this study are which have been studied by philological research and translations which have never been studied by others. This study found that in Indonesia, the Sufis propagators of Islam in Java preached by combining local traditions with Islam, which led to the birth of Javanese Sufism. The concept of manunggaling kawula lan gusti has the same understanding with man 'arofa nafsahu faqod' arofa Rabbahu, the hadith of the Prophet Muhammad SAW which is the most famous among the Sufis. The discussed four texts show the transformation in terms of languages, scripts, and forms, and the terms used, albeit with the same objective. Serat Nawa Ruci is filled with terms from Hinduism, and diminishes their use in the Serat Dewa Ruci. In the Serat Cabolek showed more use of the terms from Islam; the use of the terms from Hinduism showed only when explaining Serat Dewa Ruci. Serat Syeh Malaya is almost entirely using the term of Islam although some of the rhymes are similar to the story of Dewa Ruci with different characterizations. The last two poems explain the seven grades. Serat Sastra Jendra contains an interpretation which is a theoretical and practical meaning of the the concept of manunggaling lan gusti contained in the Serat Nawa Ruci, Dewa Ruci, Cabolek, and Syeh Malaya.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Manunggaling Kawula lan Gusti; Man 'Arofa Nafsahu Faqod 'Arofa Rabbahu; Naskah-naskah Jawa Islam; Sufistik Jawa; Tarekat Qudusiyah; Ilmu Sastra Jendra; Naskah-naskah Jawa Islam; Kesusastraan Jawa Islam
Subjects: Indonesia
Divisions: Pascasarjana Program Magister > Program Studi Sejarah Kebudayaan Islam
Depositing User: Dwi Afrianti
Date Deposited: 09 Aug 2018 04:17
Last Modified: 09 Aug 2018 04:17
URI: http://digilib.uinsgd.ac.id/id/eprint/12142

Actions (login required)

View Item View Item