Kosmologi Cahaya Al-Ghazali

H. Syihabul Furqon, H. Syihabul (1209101008) (2014) Kosmologi Cahaya Al-Ghazali. Diploma thesis, UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

[img]
Preview
Text (COVER)
1_cover.pdf

Download (139kB) | Preview
[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
2_abstrak.pdf

Download (95kB) | Preview
[img]
Preview
Text (DAFTAR ISI)
3_daftarisi.pdf

Download (199kB) | Preview
[img]
Preview
Text (BAB I)
4_bab1.pdf

Download (672kB) | Preview
[img] Text (BAB II)
5_bab2.pdf
Restricted to Registered users only

Download (384kB)
[img] Text (BAB III)
6_bab3.pdf
Restricted to Registered users only

Download (423kB)
[img] Text (BAB IV)
7_bab4.pdf
Restricted to Registered users only

Download (800kB)
[img] Text (BAB V)
8_bab5.pdf
Restricted to Registered users only

Download (197kB)
[img] Text (DAFTAR PUSTAKA)
9_daftarpustaka.pdf
Restricted to Registered users only

Download (325kB)

Abstract

Kosmologi, sebagai telaah mengenai asal-usul, sumber dan asas-asas atas tatanan realitas kian mengalami pengeroposan. Hal ini disebabkan karena manusia, sebagai pusat yang mengobservasi, kian terkikis oleh perluasan ruang dan waktu. Manusia tidak menemukan lagi suatu asas yang hakiki atas tatanan kosmos yang didasarkan pada suatu skema ontologis, akan tetapi menyerahkannya pada suatu daya mekanis semata. Untuk membaca kekeroposan dimensi manusia, kiranya diperlukan tinjauan yang tidak hanya berpijak pada realitas mekanis, tapi lebih jauh masuk ke lubuk persoalan, yakni keimanan. Dalam pembacaan ini, Al-Ghazali berupaya mendudukkan status manusia di mukabumi yang pada saat ini telah terbendakan. Dengan visi Islam sebagai keimanan dan mistisisme sebagai jalan spiritual berupaya mengisi kembali relung-relung yang mengeropos tadi. Di titik inilah Al-Ghazali dengan pembabakan terminologi cahaya sebagai skema umum, mencoba untuk mengembalikan makna kosmologi sebagai suatu disiplin yang bukannya mengeroposkan manusia, melainkan mengisi dengan pandangan mengenai asal-usul yang coba dirogoh dengan tinjauan hakiki. Menginsyafi bahwa sejatinya ada sesuatu di balik materi ini, tidak hanya dalam pandangan religius dan spiritualitas Islam, yakni bahwa seseorang memosisikan diri sebagai subjek otnom dan menanam moralitas di dalamnya sehingga segala hal ihwal tak menjadi sia-sia adalah visi paling vital. Demikian juga dengan cara pandang kita atas dunia dalam sekala besar (world view), kita takkan lagi tunduk pada hukum-hukum kenisbian atau partikularitas meski itu diinsyafi, tapi lebih jauh kita akan memandang itu dengan mata majemuk sekaligus yang substansial dan subtil. Batas-batas yang selama ini memenjarakan manusia dalam dunia keterpilahan, dalam kacamata kosmologi cahaya akan runtuh seiring dengan naiknya derajat pikiran dan batin kita dikarenakan terangnya kita memandang dari ketinggian realitas cahaya yang lebih dekat, yakni tatanan angelologi, bahkan pada realitas yang lebih ultim manusia dimungkinkan untuk memandang dengan al-Haqq (Kebenaran Sejati/Cahaya di Atas Cahaya). Akhirnya, apa yang ditelusuri Al-Ghazali merupakan bagian yang krusial dari perjalanan dan ikhtiar manusia dalam memperbaiki cara pandangnya atas semesta. Mengembalikan ranah interdisipliner dalam hubungan antara realitas fisik dan mistisisme; serta pengungkap hakikat dari segala sesuatu, yang berawal dari pengindraan, pikiran dan kesadaran, sehingga terbentuk suatu konsepsi yang menyeluruh. Dengan demikian Al-Ghazali membebaskan diri dari kesan dogmatisme karena setiap tingkatan realiitas akan memiliki konteksnya masing-masing. Ia mengajukan suatu skema kosmologi yang terbuka bagi disiplin yang paling spesifik sekalipun untuk merumuskan kosmologinya sendiri.

Item Type: Thesis (Diploma)
Uncontrolled Keywords: kosmologi, al-Ghazali
Subjects: Islam > Islam and Philosophy
Divisions: Fakultas Ushuluddin > Program Studi Aqidah Filsafat
Depositing User: Users 11 not found.
Date Deposited: 23 May 2016 03:26
Last Modified: 02 Jun 2016 09:58
URI: http://digilib.uinsgd.ac.id/id/eprint/1640

Actions (login required)

View Item View Item