Fatwa Majelis Ulama Indonesia nomor: 7 tahun 2000 tentang tenaga kerja wanita dalam ikatan perkawinan perspektif Maqashid Al-Syari’ah

Jannah, Hindri Alfiani Wahyu (2016) Fatwa Majelis Ulama Indonesia nomor: 7 tahun 2000 tentang tenaga kerja wanita dalam ikatan perkawinan perspektif Maqashid Al-Syari’ah. Masters thesis, UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

[img]
Preview
Text (COVER)
1_cover.pdf

Download (240kB) | Preview
[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
2_abstrak.pdf

Download (303kB) | Preview
[img]
Preview
Text (DAFTAR ISI)
3_daftar isi.pdf

Download (247kB) | Preview
[img]
Preview
Text (BAB I)
4_bab 1.pdf

Download (646kB) | Preview
[img] Text (BAB II)
5_bab 2.pdf
Restricted to Registered users only

Download (671kB)
[img] Text (BAB III)
6_bab 3.pdf
Restricted to Registered users only

Download (668kB)
[img] Text (BAB IV)
7_bab 4.pdf
Restricted to Registered users only

Download (871kB)
[img] Text (BAB V)
8_bab 5.pdf
Restricted to Registered users only

Download (191kB)
[img] Text (DAFTAR PUSTAKA)
9_daftar pustaka.pdf
Restricted to Registered users only

Download (323kB)

Abstract

INDONESIA : Kewajiban memberi nafkah keluarga adalah suami, jika istri yang bekerja maka menimbulkan peran ganda dalam rumah tangganya, bahkan bagaimanan jika sampai menjadi tenaga kerja wanita ke luar negeri. Majelis Ulama Indonesia merupakan penghimpun fatwa yang memberi pengaruh besar pada masyarakat Islam Indonesia. Dan penulis menemukan fatwa Majelis Ulama Indonesia nomor: 7 Tahun 2000 tentang larangan bekerja di luar kota atau luar negeri didasarkan atas berbagai aspek. Seperti aspek syariat yang tidak dibolehkan perempuan berpergian lebih dari tiga hari tanpa mahram. Maka perlu adanya perspektif maqashid asy-syariah dalam istimbath hukum yang digunakan Majelis Ulama Indonesia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tinjauan maqashid asy-syariah terhadap tenaga kerja wanita, terhadap hak dan kewajiban istri sebagai ibu rumah tangga, dan mengetahui istimbath hukum yang digunakan oleh Majelis Ulama Indonesia fatwa nomor: 7 Munas MUI Tahun 2000 tentang tenaga kerja wanita. Penelitian ini di titik beratkan pada fatwa Majelis Ulama Indonesia nomor: 7 Tahun 2000 tentang pengiriman tenaga kerja wanita ke luar negeri. Dan fatwa adalah jawaban atau penjelasan dari ulama mengenai masalah keagamaan dan berlaku untuk umum, yang dihasilkan dari siding komisi tentang suatu masalah hukum yang telah disetujui oleh anggota komisi dalam siding komisi. Metode yang digunakan penelian ini adalah metode kualitatif, penelitian jenis studi kepustakaan (library research) yaitu penelitian yang kajiannya dilakukan dengan menelusuri dan menelaah literature atau penelitian yang difokuskan pada bahan-bahan pustaka. Sumber-sumber data diperoleh dari berbagai karya tulis seperti buku, majalah, artikel dan jurnal yang secara langsung maupun tidak membicarakan persoalan yang diteliti, dan menggunakan analisis isi terhadap fatwa Majelis Ulama Indonesia nomor: 7 Munas MUI Tahun 2000 tentang tenaga kerja wanita. Data yang ditemukan bahwa fatwa Majelis Ulama Indonesia nomor; 7 tahun 2000 tentang Tenaga Kerja Wanita berlatar belakang dari dasar hukum yang digunakan yaitu: Q.S An-Nur (24):31. Hadits Nabi riwayat Bukhari Muslim tentang larangan berdua-duan dengan lawan jenis dan larangan perjalan selama tiga hari bagi perempuan kecuali dengan mahramnya. Selanjutnya kaidah fiqihyyah tentang kemaslahatan dan hajat atau kebutuhan. Oleh karena itu peran istri sebagai tenaga kerja wanita merupakan kategori dhoruriyat yang sangat membantu suami dalam mencari nafkah, maka tinjauan maqashid al-syariah dari salah satu Maqashid al-Khamsah adalah Hifdz an-Nasl / an-Nasb (memelihara keturunan). Sebagai alasan yang membantu terbentuknya fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang tenaga kerja wanita nomor 7 tahun 2000. Dengan demikian dapat disimpulakan kedudukan suami satu tingkat lebih dari pada istri dijelaskan dalam Q.S Al-Baqarah (2): 228, hal ini kembali pada faktor kehidupan rumah tangga tenaga kerja wanita, dan siapa yang lebih berhak mencari nafkah ini kesepakatan masing-masing antara suami dan istri, karena inti dari nafkah adalah anak-anak yang mana kedudukannya sebagai objek rumah tangga harus dilestarikan, dijaga, dan dilindungi oleh kedua orang tua mereka. Hal ini sejalan dengan anjuran tolong-menolong sebagaimana terdapat dalam Q.S Al-Maidah [5] ayat 2. ENGLISH : Obligation to provide the family income is the husband, if the wife works, it will inflict double role in the household, even what if the wife becomes a woman labor abroad. Indonesian Ulama Council is a collector fatwa that gives a great influence on the Indonesian Islamic community. And the author found a fatwa of Indonesian Ulama Council number: 7 Year 2000 regarding the prohibition to work outside the city or abroad based on various aspects. As the Shari'a aspects which does not allow women to travel more than three days without a mahram. So, it needs maqashid ash-Sharia perspective in law istimbath used by Indonesian Ulama Council. The purpose of this study is to find out maqashid ash-Sharia perspective against women workers, the rights and duties as a homemaker wife, and knowing law istimbath used by the Indonesian Ulama Council fatwa number: 7 MUI National Conference of 2000 on women workers. This study is focused on the Indonesian Ulama Council fatwa number: 7 Year 2000 about sending female workers abroad. And fatwa is an answer or explanation from Ulama concerning religious issues and is applicable for public, resulted from the commission hearings about a legal issue that has been approved by the commission members in hearing commission. method used is a qualitative method, research of literature study (library research) which is a research that the study conducted by searching and studying literature or research that is focused on library materials. Sources of data obtained from various papers such as books, magazines, articles and journals that directly or indirectly discuss the issue studied, and using a content analysis of the Indonesian Ulama Council fatwa number: 7 MUI National Conference of 2000 on women workers. The data found is that fatwa Indonesian Ulama Council; number 7, 2000 on Labor Women used a legal basis: Q.S An-Nur (24): 31. Hadits narrated by Bukhari Muslim on the prohibition of both a pair with the opposite of sex and the prohibition of travelling for three days for women except with a mahram. Furthermore principle fiqhiyah about the benefit and necessity. Therefore role of the wife as a woman worker is dharuriyyat category which is very helping for her husband in making a living, so, maqasid al-shariah perspective from one of maqashid al-khamsah is Hifdz-Nasl an / an-Nasb (the breeding). As a reason that helped the formation of the Indonesian Ulama Council fatwa on women workers number 7 in 2000. Therefore, It can be concluded that husband notch is one notch higher than the wife as Al-Baqarah (2): 228 described, this case returns to the household life factor of woman worker, and those who are more entitled to make a living, this is an agreement between husband and wife, because the essence of living are children, which their positions are as household objects must be preserved, be maintained, and protected by their parents. This case is in line with the recommendations of helping contained in Q.S Al-Maidah [5] paragraph 2.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Fatwa Majelis Ulama Indonesia; tenaga kerja wanita; hukum perkawinan Islam
Subjects: Fikih (Fiqih, Fiqh), Hukum Islam > Hukum Keluarga dan Hukum Perkawinan, Pernikahan menurut Islam
Social Groups > Gender
Divisions: Pascasarjana Program Magister > Program Studi Ahwal al-Syakhshiyah
Depositing User: Zulfa Sofyani Putri
Date Deposited: 31 Dec 2018 03:27
Last Modified: 31 Dec 2018 03:27
URI: http://digilib.uinsgd.ac.id/id/eprint/17732

Actions (login required)

View Item View Item