Syarah dan kritik dengan metode takhrîj hadîts tentang menggerak-gerakkan jari telunjuk dalam tasyahhud dan implikasinya terhadap pengamalan ibadah di kalangan ormas Islam di Indonesia

Basit, Gun Gun Abdul (2012) Syarah dan kritik dengan metode takhrîj hadîts tentang menggerak-gerakkan jari telunjuk dalam tasyahhud dan implikasinya terhadap pengamalan ibadah di kalangan ormas Islam di Indonesia. Masters thesis, UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

[img]
Preview
Text (COVER)
1_Cover.pdf

Download (229kB) | Preview
[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
2_abstrak.pdf

Download (662kB) | Preview
[img]
Preview
Text (DAFTAR ISI)
3_daftar isi.pdf

Download (151kB) | Preview
[img]
Preview
Text (BAB I)
4_bab 1.pdf

Download (893kB) | Preview
[img] Text (BAB II)
5_bab 2.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB)
[img] Text (BAB III)
6_bab 3.pdf
Restricted to Registered users only

Download (3MB)
[img] Text (BAB IV)
7_bab 4.pdf
Restricted to Registered users only

Download (577kB)
[img] Text (BAB V)
8_bab 5.pdf
Restricted to Registered users only

Download (467kB)
[img] Text (DAFTAR PUSTAKA)
9_daftar pustaka.pdf
Restricted to Registered users only

Download (467kB)

Abstract

Hadîts tentang isyarat jari telunjuk dalam tasyahhud terbagi tiga. Pertama, Hadîts yang hanya menyebutkan isyarat jari telunjuk tanpa menyebutkan apakah digerak-gerakkan atau tidak. Kedua, Hadîts yang menyebutkan isyarat yang disertai menggerak-gerakkan jari telunjuk. Ketiga, Hadîts yang menyebutkan isyarat tanpa menggerak-gerakkan jari telunjuk. Untuk Hadîts pertama telah disepakati keshahîhannya, dan dimuat di tiga belas mashâdir ashliyyah, yaitu : (1) Shahîh Muslim; (2) Sunan Abî Dâwûd; (3) al-Muwaththa Mâlik; (4) Sunan al-Tirmidzî; (5) Musnad Syafi’i; (6) Musnad Ahmad bin Hanbal; (7) Shahîh Ibn Hibbân; (8) Shahîh Ibn Khuzaymah; (9) Sunan al-Bayhaqî al-Kubrâ; (10) Mu’jam al-Ausath li al-Thabrânî; (11) Mustakhraj Abî ‘Awânah; (12) Mushannaf Ibn Abî Syaybah; dan (13) Mushannaf ‘Abd al-Razzâq. Sedangkan sahabat yang meriwâyatkan Hadîts ini ada enam sahabat, yaitu Abû Humayd, Abû Qatâdah, Numayr, ‘Abdullah bin ‘Umar, ‘Abdullah bin al-Zubayr, dan Wâ’il bin Hujr. Dalam tesis ini, penulis meneliti Hadîts kedua dan ketiga tentang menggerak-gerakkan dan tidak menggerak-gearkkan jari telunjuk dalam tasyahhud. Setelah dilakukan penelitian dengan metode takhrîj terhadap Hadîts kedua, didapatkan data bahwa Hadîts tersebut bersumber dari Sahabat Wâ`il bin Hujr. Hadîts ini dimuat di delapan mashâdir ‘ashliyyah, yaitu (1) Sunan al-Nasâ’î; (2) Musnad al-Imam Ahmad; (3) Sunan al-Kubrâ al-Bayhaqî; (4) al-Muntaqâ Ibn al-Jârûd; (5) Sunan al-Dârimî; (6) Shahîh Ibn Hibbân; (7) Shahîh Ibn Khuzaymah; dan (8) Al-Mu’jam al-Kabîr li al-Thabrânî. Sedangkan Hadîts ketiga bersumber dari Sahabat ‘Abdullah bin al-Zubayr dan ‘Abdullah bin ‘Umar. Namun riwâyat ‘Abdullah bin ‘Umar tidak terdapat dalam mashâdir ‘ashliyyah, namun di kitab al-Tsiqât Ibn Hibbân. Adapun riwâyat ‘Abdullah bin al-Zubayr dimuat di tujuh mashâdir ‘ashliyyah: (1) Sunan Abî Dâwûd; (2) Sunan al-Nasâ’î; (3) Mustakhraj Abû ‘Awânah; (4) Sunan al-Bayhaqî al-Kubrâ; (5) al-Mu’jam al-Kabîr li al-Thabrânî; (6) Mushannaf ‘Abd al-Razzâq; (7) Ibn Hibban. Hadîts tentang menggerak-gerakkan jari telunjuk dalam tasyahhud sanadnya bernilai maqbûl shahîh, begitu pula Hadîts tentang tidak menggerak-gerakkan jari telunjuk dalam tasyahhud. Kedua Hadîts tersebut bertentangan (ta’ârudh). Untuk penyelesaiannya, penulis menggunakan metode tarjîh. Kesimpulan penulis, bahwa riwâyat ‘Abdullah bin al-Zubayr dan ‘Abdullah bin ‘Umar lebih râjîh (ma’mûl bih) dari pada riwâyat Wâ`il bin Hujr (ghair ma’mûl bih). Alernatif solusi penyelesain ta’ârudh Hadîts ini, dengan metode al-ikhtilaf min jihat al-mubah. Artinya kedua Hadîts tersebut bisa diamalkan karena perbedaan variatif dalam pelaksannan ibadah. Di kalangan Ormas Islam di Indonesia, dalam hal ini yang penulis ungkap pendapat (hasil ijtihâd) NU, Muhammadiyyah dan Persis, terdapat perbedaan. NU berijtihâd bahwa Hadîts Wâ’il bin Hujr (yuharrikuhâ) berrmakna isyarat tanpa ada gerakan berulang-ulang, sebagaimana Hadîts ‘Abdullah bin al-Zubayr (lâ yuharrikuhâ). Sementara Muhammadiyyah menilai Hadîts Wa’il bn Hujr syadz. Sedangkan Persis berkesimpulan bahwa Hadîts Wâ’il bin Hujr (yuharrikuhâ) berstatus maqbûl-shahîh. Sedangkan Hadîts ‘Abdullah bin al-Zubayr ( lâ yuharrikuhâ) dinilai syâdz, sehingga tidak bisa dijadikan hujjah. Implikasi dari hasil penelitian ini terhadap pengamalan ibadah di kalangan Ormas Islam di Indonesia adalah menjadi bahan kajian lanjutan. Mengingat tiga Ormas Islam di Indonesia, yaitu NU, Muhammadiyyah dan Persis memiliki pandangan yang berbeda terhadap pemaknaan Hadits di atas. Persis secara tegas mengamalkan Hadits Wâ’il bin Hujr. Sementara NU dan Muhammadiyyah ada kesamaan dalam hal tidak menggerak-gerakkan jari telunjuk dalam tasyahhud, meskipun antara keduanya ada perbedaan tentang awal isyarat antara di kalimat syahâdat atau di awal tasyahhud. Namun terlepas dari adanya perbedaan pendapat di atas, sikap toleran dan saling menghargai perbedaan pendapat tetaplah harus dijunjung tinggi. Jangan sampai kebersamaan dan persatuan di kalangan umat Islam terganjal dengan adanya perbedaan furu’iyyah.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Metode takhrîj hadîts; tasyahhud dan implikasinya;pengamalan ibadah di kalangan ormas Islam di Indonesia
Subjects: Al-Hadits dan yang Berkaitan > Ilmu Hadits
Fikih (Fiqih, Fiqh), Hukum Islam > Ibadah
Divisions: Pascasarjana Program Magister > Program Studi Ilmu Hadits
Depositing User: Zulfa Sofyani Putri
Date Deposited: 20 Mar 2019 02:35
Last Modified: 20 Mar 2019 02:35
URI: http://digilib.uinsgd.ac.id/id/eprint/19425

Actions (login required)

View Item View Item