Larangan jual beli gharar perspektif Hadis: Kajian Fiqh al-Hadis

Salam, Darus (2019) Larangan jual beli gharar perspektif Hadis: Kajian Fiqh al-Hadis. Masters thesis, UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

[img]
Preview
Text (COVER)
1_cover.pdf

Download (217kB) | Preview
[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
2_abstrak.pdf

Download (599kB) | Preview
[img]
Preview
Text (DAFTAR ISI)
3_daftarisi.pdf

Download (964kB) | Preview
[img]
Preview
Text (BAB I)
4_bab1.pdf

Download (788kB) | Preview
[img] Text (BAB II)
5_bab2.pdf
Restricted to Registered users only

Download (949kB) | Request a copy
[img] Text (BAB III)
6_bab3.pdf
Restricted to Registered users only

Download (989kB) | Request a copy
[img] Text (BAB IV)
7_bab4.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB) | Request a copy
[img] Text (BAB V)
8_bab5.pdf
Restricted to Registered users only

Download (387kB) | Request a copy
[img] Text (DAFTAR PUSTAKA)
9_daftarpustaka.pdf
Restricted to Registered users only

Download (471kB) | Request a copy

Abstract

INDONESIA Tesis ini meliti tentang hadis larangan menjual barang secara gharar dalam aktivitas jual beli, khususnya jual beli online. Jual beli merupakan kegiatan yang dilakukan oleh kedua belah pihak untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan bersama. Dalam kegiatan jual beli tersebut hendaknya pihak penjual dan pembeli harus mengikuti syarat-syarat yang berlaku, yaitu adanya penjual, pembeli, dan obyek. Obyek adalah barang yang diperjualbelikan dalam akad yang kemudian ini berlaku dalam semua sistem hukum akad jual beli, melihat obyek akad tersebutlah yang menjadi tujuan utama yang hendak dicapai oleh para pihak yang bertransaksi guna memenuhi rukun akad. Apabila tidak ada obyek, tentu akadnya menjadi sia-sia dan percuma. Namun seiring perkembangan zaman, jual beli pun semakin canggih, tidak usah bertatap muka secara langsung, yang mana obyeknya ada tetapi tidak diadakan secara langsung hanya diperlihatkan gambar yang mewakili dari obyek tersebut, obyek menjadi tersamarkan. Seperti jual beli online (e-commerce) yang sekarang sedang marak di Indonesia dan dilakukan oleh kalangan manusia khusunya umat Islam. Karena jual beli online (e-commerce) itu barangnya hanya di wakili oleh gambar saja dan tidak di adakan secara langsung, karena hal ini bisa berimplikasi gharar disebabkan obyek tersebut tidak jelas. Padahala dalam beberapa hadis, Nabi telah “melarangan menjual barang gharar”. Akan tetapi larangan hadis tersebut tidak diperhatikan dalam praktek jual beli yang terjadi sekarang. Karena banyak dilakukan oleh manusia khususnya umat Islam, yaitu online. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk meneliti hadis tersebut. Untuk mencapai kejelasan dari hadis tersebut penulis menggunakan metode Fiqh} al-H}adi>s. Dalam melakukan kajian Fiqh} al-h}adi>s tentang larangan menjual barang gharar, penulis menggunakan metode deskriptif analisis yaitu: Penulis mengumpulkan hadis yang berhubungan dengan tema, meneliti latar belakang sejarah terhadap hadis ini untuk mengetahui kronologi penyebab turunnya matan hadis dengan menggunakan pendekatan normatif, meneliti hal-hal yang berkaitan dengan munasabah hadis, meneliti hadis dengan melakukan penelitian terhadap pendapat para ulama klasik ataupun kontemporer, dan menyimpulkan hasil analisa terhadap Fiqh} al-h}adi>s yang telah dilakukan dengan menggunakan pendekatan normatif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa jual beli online (e-commerce) secara gharar itu hukumnya haram dan berimplikasi terhadap batalnya jual beli tersebut. Hadis ini menganjurkan agar barang atau sesuatu yang menjadi obyek akad itu terhindar dari kesamaran dan riba. Atas dasar itu disimpulkan bahwa suatu aturan umum mengenai obyek akad, yaitu bahwa obyek akad tersebut harus merupakan barang yang dapat dipastikan bisa diserahkan, barangnya dapat dimanfaatkan, kejelasan status penjual, kesesuaian harga dengan kualitas barang, dan berlaku jujur. Adanya implementasi inilah nilai-nilai ajaran Islam (budaya jual beli) mendukung dan mewujudkan kesejahteraan bangsa di era modernisasi khususnya pada masyarakat Indonesia. Dengan kata lain berhati-hati dalam melakukan transaksi jual beli agar terhindar dari unsur penipuan. ARABIC هذه الأطروحة تدور حول تقليد حظر بيع سلع الغار في البيع والشراء ، وخاصة البيع والبيع عبر الإنترنت. البيع والشراء هو نشاط يقوم به كلا الطرفين للحصول على شيء يريدونه معًا. في أنشطة البيع والشراء ، يجب على البائع والمشتري اتباع الشروط المعمول بها ، أي وجود البائعين والمشترين والأشياء. الكائنات هي البضائع التي يتم تداولها في العقد والتي تنطبق بعد ذلك في جميع النظم القانونية لعقد البيع والشراء ، ورؤية الهدف من العقد هو الهدف الرئيسي الذي يجب أن يتحقق من قبل الأطراف التي تتعامل من أجل الوفاء بأركان العقد. إذا لم يكن هناك أي أشياء ، بالطبع سيكون العقد بلا فائدة ولا فائدة منه. ولكن مع مرور الوقت ، أصبح البيع والشراء أكثر تطوراً ، فليست هناك حاجة للوقوف وجهًا لوجه مباشرةً ، حيث توجد الأشياء ولكن لا يتم الاحتفاظ بها مباشرة فقط الصور المعروضة التي تمثل الكائن ، وتصبح الأشياء غامضة. مثل البيع والشراء عبر الإنترنت (التجارة الإلكترونية) الذي أصبح الآن متفشًا في إندونيسيا ويتم تنفيذه بواسطة أشخاص وخاصة المسلمين. لأن التجارة الإلكترونية يتم تمثيلها بالصور فقط ولا يتم الاحتفاظ بها مباشرة ، لأن هذا يمكن أن يكون له انعكاسات غرار لأن الكائن غير واضح. في بعض التقاليد ، كان النبي "يحظر بيع الغرار". ومع ذلك ، لا يعتبر حظر الحديث في ممارسة البيع والشراء الذي يحدث الآن. لأن الكثير يتم عن طريق البشر ، وخاصة المسلمين ، أي عبر الإنترنت. لذلك ، يهتم المؤلف بالبحث في الحديث. لتحقيق الوضوح من الحديث يستخدم المؤلف فقه الحديث. في إجراء دراسة لفقه الحديث فيما يتعلق بحظر بيع المواد الغارانية ، يستخدم المؤلف طرق التحليل الوصفي ، وهي: يجمع المؤلف الأحاديث المتعلقة بالموضوع ، ويفحص الخلفية التاريخية لهذا الحديث لمعرفة التسلسل الزمني لانحراف الحديث باستخدام منهج معياري ، وفحص المسائل المتعلقة بتقليد الحديث ، ودراسة الحديث من خلال إجراء البحوث على آراء العلماء الكلاسيكية أو المعاصرة ، واستكمال نتائج تحليل الفقه الحديث الذي تم باستخدام نهج معياري. تشير نتائج هذه الدراسة إلى أن بيع وشراء الغرر غير قانوني وله آثار على إلغاء البيع والشراء. يوصي هذا الحديث بحماية الكائن أو أي شيء هو موضوع العقد من الغموض والربا. بناءً على ذلك ، تم استنتاج أن قاعدة عامة تتعلق بأشياء العقد ، وهي أن موضوع العقد يجب أن يكون عنصرًا يمكن التأكد من تسليمه ، ويمكن استخدام البضائع ، ووضوح حالة البائع ، ومدى ملاءمة السعر بجودة البضائع ، والأمانة. إن وجود هذا التنفيذ لقيم التعاليم الإسلامية (ثقافة البيع والشراء) يدعم ويدرك رفاهية الأمة في عصر التحديث ، خاصة بالنسبة لشعب إندونيسيا. بمعنى آخر ، توخي الحذر عند شراء وبيع المعاملات لتجنب الاحتيال. ENGLISH This thesis is about the tradition of prohibiting selling goods gharar in buying and selling activities, especially online buying and selling. Buying and selling is an activity carried out by both parties to get something they want together. In buying and selling activities, the seller and buyer must follow the applicable conditions, namely the presence of sellers, buyers and objects. Objects are goods that are traded in a contract which then apply in all legal systems of sale and purchase contract, seeing the object of the contract is the main goal to be achieved by the parties to the transaction in order to fulfill the pillars of the contract. If there are no objects, of course the contract will be useless and useless. But over the times, buying and selling has become more sophisticated, no need to meet face to face, which object is there but not held directly only shown images that represent the object, the object becomes obscured. Such as online buying and selling (e-commerce) which is now rampant in Indonesia and is carried out by people especially Muslims. Because e-commerce is only represented by images and is not held directly, because this can have gharar implications because the object is not clear. In some traditions, the Prophet has "prohibited selling gharar goods". However, the prohibition of the hadith is not considered in the practice of buying and selling that is happening now. Because a lot is done by humans, especially Muslims, namely online. Therefore, the author is interested in researching the hadith. To achieve clarity from the hadith the author uses the Fiqh} al-H}a>dith} method. In conducting a study of Fiqh} al-H}a>dith regarding the prohibition on selling gharar items, the author uses descriptive analysis methods, namely: The author collects hadiths related to the theme, examines the historical background of this hadith to find out the chronology of the decline of hadith using a normative approach, examining matters relating to the tradition of hadith, examine the hadith by conducting research on the opinions of classical or contemporary scholars, and concluding the results of the analysis of Fiqh} al-H}a>dith that has been done using a normative approach. The results of this study indicate that the gharar sale and purchase is illegal and has implications for the cancellation of the sale and purchase. This Hadith recommends that the object or something that is the object of the contract be protected from obscurity and usury. On the basis of that, it was concluded that a general rule regarding contract objects, namely that the object of the contract must be an item which can be ascertained to be delivered, the goods can be utilized, clarity of seller's status, suitability of price with quality of goods, and honesty. The existence of this implementation of the values of Islamic teachings (culture of buying and selling) supports and realizes the welfare of the nation in the era of modernization, especially in the Indonesian community. In other words, be careful when buying and selling transactions to avoid fraud.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: gharar; Hadits;
Subjects: Al-Hadits dan yang Berkaitan
Al-Hadits dan yang Berkaitan > Ilmu Hadits
Divisions: Pascasarjana Program Magister > Program Studi Ilmu Hadits
Depositing User: darus salam
Date Deposited: 26 Sep 2019 06:58
Last Modified: 26 Sep 2019 06:58
URI: http://digilib.uinsgd.ac.id/id/eprint/24443

Actions (login required)

View Item View Item