Gambaran Religiusitas Pada Waria Pesantren Senin-Kamis Notoyudan Yogyakarta

Acep Sukandi, Acep (1209 600 001) (2014) Gambaran Religiusitas Pada Waria Pesantren Senin-Kamis Notoyudan Yogyakarta. Diploma thesis, UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

[img]
Preview
Text (COVER)
1_cover.pdf

Download (116kB) | Preview
[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
2_abstrak.pdf

Download (202kB) | Preview
[img]
Preview
Text (DAFTAR ISI)
3_daftarisi.pdf

Download (119kB) | Preview
[img]
Preview
Text (BAB I)
4_bab1.pdf

Download (337kB) | Preview
[img] Text (BAB II)
5_bab2.pdf
Restricted to Registered users only

Download (491kB)
[img] Text (BAB III)
6_bab3.pdf
Restricted to Registered users only

Download (255kB)
[img] Text (BAB IV)
7_bab4.pdf
Restricted to Registered users only

Download (541kB)
[img] Text (BAB V)
8_bab5.pdf
Restricted to Registered users only

Download (214kB)
[img] Text (DAFTAR PUSTAKA)
9_daftarpustaka.pdf
Restricted to Registered users only

Download (282kB)

Abstract

Waria merupakan individu yang terkadang mendapatkan stigma negatif dari masyarakat. Waria dihadapkan pada berbagai masalah, mulai dari penolakan keluarga, kurang diterima atau bahkan tidak diterima secara sosial, dianggap lelucon, hingga kekerasan baik verbal maupun non verbal. Ditengah realita waria yang mendapat stereotipe negatif dari masyarakat peneliti menemukan fenomena menarik di Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu adanya pesantren khusus waria. Jika selama ini pesantren identik dengan penerapan aturan secara ketat berupa pembatasan pergaulan laki-laki dan perempuan, maka pesantren ini seakan tidak mempermasalahkan jenis kelamin. Pondok Pesantren Senin-Kamis memang unik. Ini pesantren khusus waria, karena itu santri pun dibebaskan untuk “memilih” menjadi laki-laki atau perempuan, termasuk dalam hal beribadah. Beribadah menjadi suatu realitas yang dikotomis bagi seorang waria. Di satu sisi waria seringkali dihadapkan dengan praktik seks bebas (pelacuran), namun di sisi lain waria juga mempunyai suatu kesadaran untuk hidup secara religius. Hal ini menjadi menarik untuk diteliti karena pada satu sisi ia menjalankan perintah agama namun disisi lain sebagai waria ia telah melanggar ajaran agama yang jelas melarang untuk melakukan transgender. Religiusitas atau keberagamaan diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupan manusia. Aktivitas beragama bukan hanya terjadi ketika seseorang melakukan perilaku ritual (beribadah), tetapi juga ketika melakukan aktivitas lain yang didorong oleh kekuatan supernatural. Menurut Glock dan Stark (1996) religiusitas adalah seberapa jauh pengetahuan, seberapa kokoh keyakinan, seberapa tekun pelaksanaan ibadah dan seberapa dalam penghayatan agama yang dianut seseorang. Ada lima macam dimensi religiusiats yaitu : dimensi keyakinan (ideoligis), dimensi praktik, dimensi pengalaman, dimensi pengetahuan dan dimensi konsekuensi. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode kualitataif dengan jenis deskriftif yang bersifat studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan observasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana gambaran religiusitas pada waria sekaligus pendiri pesantren waria senin-kamis. Hasil penelitian menunjukan bahwa subjek meyakini bahwa segala sesuatu telah ditakdirkan Allah SWT termasuk keadaan dirinya sebagai waria. Subjek yakin islam adalah agama yang baik. Subjek menjalankan perintah Allah melalui ibadah sehari-hari baik itu berhubungan dengan Allah (hablumminallah) maupun yang berhubungan dengan manusia (habumminannas). Ibadah yang lakukan subjek antara lain : shalat wajib lima waktu, puasa ramadhan, dzikir, shalat sunat terawih, tahajud, pengajian dan subjek juga pernah beribada umroh ke tanah suci mekkah. Subjek merasa dirinya berubah setelah masuk islam. Setelah masuk islam subjek telah meninggalkan kehidupan malamnya yang lekat dengan pelacuran. Bagi subjek hal itu merupakan suatu hikmah. Subjek merealisasikan keyakinan agamanya dalam berhubungan dengan lingkungan sekitarnya melalui bentuk kegiatan-kegiatan sosial. Hal ini sering ia lakukan bersama para santri waria lain saat terjadi bencana alam terutama di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan sosial ini dilakukan oleh internal pondok pesantren waria maupun dengan bekerjasama dengan pihak dan instansi terkait.

Item Type: Thesis (Diploma)
Uncontrolled Keywords: Religiusitas, Waria, Pesantren
Subjects: Differential and Developmental Psychology > Sex Psychology and Psychology of The Sexes
Divisions: Fakultas Psikologi > Program Studi Psikologi
Depositing User: Nailah Hanany
Date Deposited: 21 Dec 2016 06:41
Last Modified: 09 Jan 2017 05:47
URI: http://digilib.uinsgd.ac.id/id/eprint/2543

Actions (login required)

View Item View Item