Intoleransi keberagamaan di media sosial: Studi terhadap konten hatespeech di media sosial Facebook

Herlina, Lina (2018) Intoleransi keberagamaan di media sosial: Studi terhadap konten hatespeech di media sosial Facebook. Masters thesis, UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

[img]
Preview
Text (COVER)
COVER.pdf

Download (13kB) | Preview
[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
ABSTRAK.pdf

Download (257kB) | Preview
[img]
Preview
Text (DAFTAR ISI)
DAFTAR ISI.pdf

Download (211kB) | Preview
[img]
Preview
Text (BAB I)
BAB I.pdf

Download (645kB) | Preview
[img] Text (BAB II)
BAB II.pdf
Restricted to Registered users only

Download (848kB)
[img] Text (BAB III)
BAB III.pdf
Restricted to Registered users only

Download (622kB)
[img] Text (BAB IV)
BAB IV.pdf
Restricted to Registered users only

Download (696kB)
[img] Text (BAB)
BAB V.pdf
Restricted to Registered users only

Download (749kB)
[img] Text (BAB VI)
BAB VI.pdf
Restricted to Registered users only

Download (458kB)
[img] Text (DAFTAR PUSTAKA)
daftar pustaka.pdf
Restricted to Registered users only

Download (437kB)

Abstract

Penelitian ini bermula dari ketertarikan peneliti terhadap fenomena intoleransi beragama di media digital seperti Facebook. Facebook hadir sebagai solusi masyarakat untuk memudahkan komunikasi dan berbagi, namun kemudian berubah menjadi sarana untuk menyebarkan ujaran-ujaran kebencian. Perbedaan pendapat, pandangan dan pilihan sudah tak lagi jadi bahan diskusi melainkan jadi bahan perdebatan dan saling hujat. Bahkan kemudian muncul beragam aktivitas intoleransi seperti labeling, intimidasi, sterotype, ejekan, cercaan dan lainnya dalam istilah-istilah tertentu. Kadang istilah tersebut tak dapat dipahami oleh sebagian besar orang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana fenomena munculnya istilah hujatan tersebut dan apa saja istilah populer yang biasa digunakan. Peneliti juga ingin mengetahui apa makna dari istilah hujatan tersebut dihubungkan dengan fenomena intoleransi beragama di media sosial. Dan selanjutnya, peneliti ingin mengetahui bagaimana ideologi para penggunan Facebook yang menggunakan ujaran dengan istilah-istilah khusus tersebut. Toleransi muncul beriringan dengan adanya konsep pluralisme. Apa yang ada di dunia ini bersifat plural atau beraneka ragam yang di satu sisi bisa jadi daya penyatu (sentripental) dan disi lain bisa daya pemecah (sentrifugal). Daya pemecah ini yang kemudian menimbulkan adanya intoleransi. Pola intoleransi saat ini tidak lagi terjadi secara fisik seperti kasus Poso, Ambon dan lainnya. Perkembangan teknologi digital merubahnya, kini pola intoleransi terjadi di ranah dunia virtual salah satunya menggunakan teks hujatan di postingan status Facebook. Untuk memahami itu, dibutuhkan teori khusus, salah satunya menggunakan teori analisis wacana (discourse analysis). Metode pengumpulan data yang dilakukan adalah non-participant observation dan juga melakukan dokumentasi atas pengamatan dan observasi tersebut. Data yang diambil adalah istilah hujatan intoleran yang ada dalam postingan-postingan pengguna facebook. Peneliti mengambil 10 istilah serta hanya yang memiliki sentimen agama saja. Kemudian semuanya dianalisa menggunakan teori Fairclough; (1) Dimensi Text, (2) Discourse Practice, dan (3) Social Practice. Lalu dihubungkan dengan fenomena intoleransi beragama versi Joachim Wach. Sementara untuk membongkar ideologi, peneliti menggunakan teori Jagger and F. Maier yakni (1) konteks, (2) luaran teks, (3) retorika, (4) isi dan pernyataan ideologis, (5) kekhasan dan (6) posisi wacana. Hasil penelitian didapatkan bahwa fenomena munculnya istilah hujatan tersebut disebabkan oleh dendam politik dari Pilkada DKI Jakarta tahun 2016. Dalam data Social Progress Index periode 2014-2017, skor toleransi beragama di Indonesia ada pada titik terendah yakni sebesar 2,0. Dalam periode tersebut, fenomena kampanye sara banyak terjadi apalagi non-muslim merasa didiskriminasi karena Ahok kalah dan kemudian masuk penjara. Akhirnya munculah beragam hujatan yang terjadi antar kedua kelompok itu dan terjadi sampai sekarang. Beberapa diantaranya adalah kaum bumi datar, kaum sumbu pendek, kaum bani taplak, kaum bani serbet, kaum bani onta, kaum bani cabul, kaum bani cebong, kaum bani kampret, kaum bani micin dan kaum bani daster. Penggunaan istilah tersebut sulit dipahami secara literal melainkan haru secara kontekstual dan interpretasi sosial. Dari 10 istilah hujatan, 7 diantaranya adalah serangan dari non muslim. Sedangkan 3 lainnya adalah dari muslim ke nonmuslim sebagai balasan. Kemudian hujatan tersebut juga dipengaruhi ideologi politik antara pro pemerintah dan oposisi, Kemudian ada refresentasi tokoh yang didukung seperti Prabowo dan Riziek, Jokowi dan ahok. Sementara ideologi pemikiran, 7 istilah hujatan diberikan pada kelompok muslim yang dogmatis, sedangkan 3 untuk non-muslim adalah menggambarkan mereka punya pikiran yang liberal dan sekuler.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: intoleransi keberagamaan; media sosial; konten hatespeech;
Subjects: Religious Mythology > Attitudes of Religions Toward Social Issues
Islam > Islam and Other Belief
Aqaid (Aqidah, Akidah) dan Ilmu Kalam > Islam tentang Agama dan Aliran Lain, Hubungan Islam dengan Agama dan Aliran Lain
Social Groups > Religious Groups
Divisions: Pascasarjana Program Magister > Program Studi Religious Studies
Depositing User: Lina Lina Herlina
Date Deposited: 08 Jan 2020 02:12
Last Modified: 08 Jan 2020 02:12
URI: http://digilib.uinsgd.ac.id/id/eprint/27931

Actions (login required)

View Item View Item