Hibah 'Umra menurut Imam Malik dan Imam Syafi`i

Hilman, Ucu (2006) Hibah 'Umra menurut Imam Malik dan Imam Syafi`i. Diploma thesis, UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

[img]
Preview
Text (COVER)
COVER.pdf

Download (77kB) | Preview
[img]
Preview
Text (DAFTAR ISI)
DAFTAR ISI.pdf

Download (74kB) | Preview
[img]
Preview
Text (BAB I)
BAB I.pdf

Download (203kB) | Preview
[img] Text (BAB II)
BAB II.pdf
Restricted to Registered users only

Download (188kB)
[img] Text (BAB III)
BAB III.pdf
Restricted to Registered users only

Download (181kB)
[img] Text (BAB IV)
BAB IV.pdf
Restricted to Registered users only

Download (152kB)
[img] Text (BAB V)
BAB V.pdf
Restricted to Registered users only

Download (102kB)
[img] Text (DAFTAR PUSTAKA)
DAFTAR PUSTAKA.pdf
Restricted to Registered users only

Download (114kB)

Abstract

Proses penghibahan erat sekali dengan pengalihan benda dari pemberi ke penerima, dan inilah yang dinamakan perilaku bermuāmalah. Hal ini dilakukan secara sukarela dan ketika keduanya masih hidup. Hibah itu bermacam-macam, salah satunya adalah hibah umra (seumur hidup). Dalam menanggapi hibah ini antara Imam Malik dan Imam Syafi'i yang statusnya sebagai guru dan murid ternyata berbeda pendapat. Menurut Imam Malik, barang tersebut bisa kembali kepada si pemberi, jika tidak ada klausul tambahan. Namun, jika ada klausul tambahan berupa perkataan `ia bagimu dan bagi keturunanmu`, maka harta hibah tersebut pun kembali kepada si pemberi jika hubugan keturunannya sudah terputus. Sedangkan menurut Imam Syafi'i, barang hibah tersebut menjadi milik si penerima dan menjadi harta pusaka (turun temurun). Imam Syafi`i menyebut hibah ini adalah hibah mabtutah (hibah lir riqbah), yakni hibah yang terdapat adanya persyaratan dari yang memberi dan saling mengintai (siapa yang yang lebih dahulu meninggal, maka yang masih hidup itulah yang mendapatkan harta tersebut). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui serta membandingkan pendapat/alasan-alasan yang digunakan oleh Imam Malik dan Imam Syafi'i tentang hibah `umra, berikut dasar hukum dan metode istinbath al-ahkam yang digunakan serta untuk mengetahui persamaan dan perbedaan antar keduanya. Penelitian ini adalah penelitian buku (book survey), yakni meneliti kitab-kitab pokok bagi Imam Malik diantaranya al-Muwaththa' dan al-Mudawwanah al-Kubra dan kitab pokok bagi Imam Syafi'i diataranya al-Umm dan al-Risalah. Metode penelitian yang digunakan adalah metode komperatif, yakni dengan membandingkan persamaan dan perbedaan dihubungkan dengan metode istinbath al-ahkam yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Imam Malik menggunakan hadits yang diperkuat oleh qaul-nya dengan ijma (ahli Madinah), sedangkan Imam Syafi'i Menggunakan hadits dengan ijma (ahli semua kota) serta qiyas. Hal ini juga menunjukkan bahwa adanya kesamaan dari kedua Imam dalam pengambilan dasar hukum. Imam Malik mengambil hadits disertai qaul-nya yang lebih spesifik dengan adanya klausul dengan kata-kata "bagimu dan keturunanmu". Yang paling mengesankan, bahwa Imam Syafi'i mengambil hadits dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik, namun pada hadits berikutnya Imam Syafi'i tidak menjadikannya sebagai hujjah. Imam Syafi'i berargumen untuk hibah `umra itu menganalogikan kepada jual beli budak yang dipersyaratkan oleh penjual, jual beli tersebut menggugurkan syaratnya. Maka hibah `umra pun demikian syaratnya gugur dan hibahnya sah. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa bahwa perbedaan pendapat ini diakibatkan oleh sudut pandang, dasar hukum, serta metode istinbath al-ahkam yang digunakan oleh Imam Malik dan Imam Syafi'i. Sekalipun terdapatnya perbedaan, tetapi masih terdapat persamaan yang saling keterkaitan.

Item Type: Thesis (Diploma)
Uncontrolled Keywords: hibah 'Umra; Imam Malik; Imam Syafi`i;
Subjects: Law
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Program Studi Perbandingan Madzhab dan Hukum
Depositing User: Users 30 not found.
Date Deposited: 29 Mar 2017 03:27
Last Modified: 22 Aug 2019 08:18
URI: http://digilib.uinsgd.ac.id/id/eprint/3110

Actions (login required)

View Item View Item