Sinkretisme sebagai sistem budaya masyarakat pesisir: Studi deskriptif-antropologis terhadap sistem kepercayaan masyarakat di Desa Pangandaran, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Ciamis

Zakiyah, Siti (2006) Sinkretisme sebagai sistem budaya masyarakat pesisir: Studi deskriptif-antropologis terhadap sistem kepercayaan masyarakat di Desa Pangandaran, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Ciamis. Diploma thesis, UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

[img]
Preview
Text (COVER)
COVER.pdf

Download (64kB) | Preview
[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
ABSTRAK.pdf

Download (70kB) | Preview
[img]
Preview
Text (DAFTAR ISI)
DAFTAR ISI.pdf

Download (69kB) | Preview
[img]
Preview
Text (BAB I)
BAB I.pdf

Download (156kB) | Preview
[img] Text (BAB II)
BAB II.pdf
Restricted to Registered users only

Download (183kB)
[img] Text (BAB III)
BAB III.pdf
Restricted to Registered users only

Download (164kB)
[img] Text (BAB IV)
BAB IV.pdf
Restricted to Registered users only

Download (250kB)

Abstract

Dalam tinjauan Ilmu Perbandingan Agama, sistem kepercayaan adalah salah satu bentuk pengalaman beragama yang berhubungan dengan ekpresi pemikiran (sistem kepercayaan, mitologi, dogma-dogma), sedangkan dua bentuk ekspresi lainnya yaitu ekspresi praktis (sistem peribadatan/ritual); dan ekspresi dalam persekutuan (pengelompokan umat beragama). Ketiga bentuk ekspresi itu ternyata kemudian menyatu dalam suatu sistem budaya yang ada di daerah pesisir selatan Jawa Barat, yaitu Desa Pangandaran, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Ciamis, yang hanya dapat dimaknai melalui sejumlah simbol-simbol sakral yang ada di dalamnya. Simbol-simbol sakral ini bukanlah semata-mata berasal dari suatu ajaran agama tertentu, melainkan lintas agama (kepercayaan), yang akhirnya melahirkan sinkretisme. Kerangka di atas telah menarik penulis untuk membahas sistem kepercayaan di tempat tersebut beserta pelbagai fenomena kultural-simbolisnya dalam hubungannya dengan pembentukan sistem budaya masyarakat pesisir. Oleh karena itu, penulis telah dengan sengaja mengambil teori antropologi budaya-simbolik Clifford Geertz terutama konsep �Agama sebagai Sistem Budaya�-nya sebagai pendekatan dan alat analisis untuk membedah permasalahan-permasalahan yang timbul sebagaimana dalam kerangka di atas. Sedangkan, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif-deskriptif. Kualitatif karena data-data yang diambil dalam penelitian ini bersifat �kualitatif�yang digunakan untuk memahami makna perilaku, budaya, fenomena, dan simbol-simbol; dan deskriptif karena ditujukan untuk mencatat, melukiskan, menguraikan, dan melaporkan fakta-fakta dan berbagai peristiwa yang nampak berlaku di dalam kehidupan masyarakat. Hasil penelitian membuktikan bahwa pada dasarnya masyarakat Pangandaran tidak menyadari bahwa apa yang selama ini mereka percayai, apa yang mereka yakini, dan apa yang mereka lakukan dalam pelbagai macam tradisi dan ritual merupakan suatu bentuk sinkretisme. Mereka sadar dan yakin sepenuhnya bahwa Tuhan (Allah) itu ada dan menguasai segala sesuatu yang ada di muka bumi ini. Namun, karena pola hidup masyarakat nelayan yang keras yang menuntut adanya harmonisasi dengan alam, membuat mereka juga sadar dan yakin: bahwa suatu tempat memiliki penunggu dan penguasanya sendiri (dalam hal ini makhluk gaib); bahwa suatu keberkahan, keselamatan, dan kemakmuran tidak hanya ditentukan oleh usaha yang rajin dan berdoa saja (salat), tapi juga ditentukan oleh bentuk-bentuk ilmu gaib (magi), seperti mantera-mantera, jimat-jimat, dan isim-isim; bahwa suatu makhluk gaib yang menguasai laut selatan, yaitu Nyai Roro Kidul, merupakan sesosok makhluk yang memberi keselamatan dan keberkahan bagi masyarakat, khususnya para nelayan; bahwa suatu upacara tradisional (ritual) yang dinamakan Hajat Laut beserta segala sesaji, prosesi upacara, mantera-mantera pengiring sesaji, dan lain-lainnya merupakan bagian integral dari sistem kepercayaan masyarakat Pangandaran yang bernuansa, magis, mitis, dan tentunya sinkretis. Dalam konteks itu, pertunjukan wayang juga merupakan bagian dari sistem kepercayaan sinkretis karena keampuhan pertunjukan itu sendiri sebagai ritual ngaruwat laut dan ngaruwat bumi. Semua itu dapat dipahami melalui simbol-simbol sakral yang ada di dalamnya, sehingga peran teori Clifford Geertz sungguh terasa dalam memaknai semua sistem simbol itu yang akhirnya membentuk sistem budaya secara keseluruhan. Kesimpulan yang didapat penulis dari penelitian ini adalah bahwa sinkretisme berkembang dan menjadi sistem budaya dalam kehidupan masyarakat pesisir karena beberapa hal, di antaranya banyaknya pemahaman masyarakat yang parsial terhadap ajaran Islam, misalnya hanya mengutamakan aspek mistiknya ditambah dengan pola hidup masyarakat nelayan yang banyak menggantungkan usahanya di laut, menjadikan kekuatan tersendiri untuk menawarkan pemikiran mitis, misalnya percaya terhadap makhluk-makhluk gaib sebagai penunggu dan bahkan penguasa laut (anu ngageugeuh laut)

Item Type: Thesis (Diploma)
Uncontrolled Keywords: Sistem budaya; Sinkretisme; sistem kepercayaan;
Subjects: Aqaid (Aqidah, Akidah) dan Ilmu Kalam > Perbandingan Kepercayaan Aliran dan Sekte-sekte dalam Islam
Divisions: Fakultas Ushuluddin > Program Studi Perbandingan Agama
Depositing User: Users 30 not found.
Date Deposited: 03 Mar 2016 01:24
Last Modified: 22 Aug 2019 08:35
URI: http://digilib.uinsgd.ac.id/id/eprint/740

Actions (login required)

View Item View Item