Anam, Alfan Misbahul (2026) Konsep nusyuz dan hubungannya dengan hak-hak perempuan dalam perkawinan menurut Siti Musdah Mulia. Sarjana thesis, UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Full text not available from this repository.Abstract
Siti Musdah Mulia memiliki perbedaan pendapat dengan KHI dalam memahami konsep nusyuz. Perbedaan ini bisa dilihat dari KHI yang hanya mengatur tentang nusyuz istri saja dan tidak ada satupun ketentuan yang mengatur tentang nusyuz yang dilakukan oleh suami. Sedangkan Siti Musdah Mulia berpendapat bahwa suami atau istri keduanya berpotensi melakukan nusyuz. Jika seorang istri melakukan nusyuz terhadap suaminya, maka hal itu diatur dalam QS. An-Nisa ayat 34. Sedangkan jika suami yang melakukan nusyuz, maka hal tersebut tercantum dalam QS. An-Nisa ayat 128. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemikiran Siti Musdah Mulia mengenai konsep nusyuz, untuk mengetahui metode istinbath yang digunakan oleh Siti Musdah Mulia dalam memahami konsep nusyuz dan untuk mengetahui tinjauan Undang-Undang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam tentang pemikiran Siti Musdah Mulia mengenai nusyuz. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah content analysis (analisis terhadap isi) yaitu menganalisis pemikiran Siti Musdah Mulia mengenai konsep nusyuz dalam bukunya yang berjudul “Membangun Surga di Bumi: Kiat-Kiat Membina Keluarga Ideal dalam Islam” dengan pendekatan yuridis normatif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui wawancara dan studi kepustakaan dari berbagai literatur. Penelitian ini bertolak dari sebuah pemikiran Siti Musdah Mulia yang menyatakan bahwa suami atau istri keduanya berpotensi melakukan perbuatan nusyuz dalam bukunya yang berjudul “Membangun Surga di Bumi: Kiat-Kiat Membina Keluarga Ideal dalam Islam” Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: Pertama, Siti Musdah Mulia mengkategorikan perbuatan nusyuz sebagai sikap mengabaikan tanggungjawab terhadap kewajiban dalam rumah tangga baik istri maupun suami. Menurut Siti Musdah Mulia ketentuan dalam KHI dirasakan membawa ketidakadilan karena hanya mengatur tentang nusyuz istri saja dan tidak ada satupun ketentuan yang mengatur tentang nusyuz suami. Kedua, metode istinbath yang digunakan Musdah Mulia dalam memahami konsep nusyuz yakni: 1) Menggunakan Al-Quran; 2) Menggunakan Hadits; 3) Menggunakan konsep Maqashid Syariah. Ketiga, pemikiran Siti Musdah Mulia terkait nusyuz tidak sejalan dengan KHI karena ketika suami tidak dapat memenuhi kewajibannya, nusyuz tidak ditentukan sanksinya. Sedangkan ketika istri dianggap telah nusyuz, maka hak istri gugur untuk menuntut kewajiban suami. Namun pemikiran Siti Musdah Mulia ini tidak bertolakbelakang dengan UUP apabila istilah nusyuz dimaknai sebagai pembangkangan atau ketidaktaatan terhadak hak dan kewajiban dalam berumah tangga karena dalam Undang-Undang Perkawinan dijelaskan terkait suami atau istri yang melalaikan kewajibannya masing-masing dapat mengajukan gugatan kepada Pengadilan.
| Item Type: | Thesis (Sarjana) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | hak perempuan dalam perkawinan; ketentuan KHI; nusyuz menurut siti musdah mulia |
| Subjects: | Fikih (Fiqih, Fiqh), Hukum Islam > Hak dan Kewajiban Suami Istri Menurut Islam |
| Divisions: | Fakultas Syariah dan Hukum > Program Studi Al-Ahwal Al-Syakhshiyah |
| Depositing User: | Misbahul Anam Alfan |
| Date Deposited: | 14 Apr 2026 04:02 |
| Last Modified: | 14 Apr 2026 04:02 |
| URI: | https://digilib.uinsgd.ac.id/id/eprint/129880 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |



