Abidin, Jenjen (2026) Konstruksi modal simbolik dan otoritas keagamaan ulama lokal dalam Islamisasi masyarakat pesisir Pangandaran. Masters thesis, UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
|
Text (COVER)
COVER OK.pdf Download (122kB) | Preview |
|
|
Text (ABSTRAK)
ABSTRAK.pdf Download (317kB) | Preview |
|
|
Text (SUKET BEBAS PLAGIASI)
s2saa surat bebas plagiasi-jenjen.pdf Download (145kB) | Preview |
|
|
Text (DAFTAR ISI)
DAFTAR ISI.pdf Download (255kB) | Preview |
|
|
Text (BAB I)
BAB I.pdf Download (421kB) | Preview |
|
|
Text (BAB II)
BAB II.pdf Restricted to Registered users only Download (586kB) |
||
|
Text (BAB III)
BAB III.pdf Restricted to Registered users only Download (368kB) |
||
|
Text (BAB IV)
BAB IV.pdf Restricted to Registered users only Download (585kB) |
||
|
Text (BAB V)
BAB V.pdf Restricted to Registered users only Download (319kB) |
||
|
Text (DAFTAR PUSTAKA)
DAFTAR PUSTAKA.pdf Restricted to Registered users only Download (319kB) |
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi modal simbolik ulama lokal, mekanisme pembentukan otoritas keagamaan, serta strategi dan praktik keagamaan yang digunakan dalam proses Islamisasi masyarakat pesisir Pangandaran. Kajian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya peran ulama lokal sebagai aktor sosial-keagamaan yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan tradisi budaya pesisir sehingga terbentuk corak keberagamaan yang moderat, kontekstual, dan berakar pada kearifan lokal. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi simbolik. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi terhadap ulama, tokoh masyarakat, budayawan, serta masyarakat pesisir Pangandaran. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan, serta interpretasi hermeneutik dengan menggunakan teori modal simbolik, habitus, dan arena sosial Pierre Bourdieu yang dipadukan dengan teori otoritas Max Weber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal simbolik ulama lokal di Pangandaran dibangun melalui empat unsur utama, yaitu nasab keulamaan, keilmuan agama, kesalehan personal, dan karisma sosial. Modal simbolik tersebut kemudian dikonversi menjadi otoritas keagamaan melalui mekanisme pengakuan sosial yang berlangsung secara berkelanjutan dalam kehidupan masyarakat. Otoritas ulama tidak semata-mata bersumber dari posisi formal, tetapi lahir dari legitimasi sosial yang diperoleh melalui keterlibatan aktif dalam pendidikan keagamaan, mediasi sosial, pelestarian tradisi, dan pembinaan masyarakat. Strategi Islamisasi yang dilakukan ulama berlangsung secara kultural melalui pengajian, tradisi keagamaan, ritual sosial, dakwah berbasis budaya, serta adaptasi terhadap perkembangan teknologi dan media digital. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Islamisasi di Pangandaran berlangsung secara organik melalui interaksi simbolik antara agama dan budaya sehingga menghasilkan corak Islam pesisir yang inklusif, akomodatif, dan berkelanjutan. Penelitian ini memperkaya kajian sosiologi agama dan antropologi Islam mengenai hubungan antara modal simbolik, otoritas keagamaan, dan proses Islamisasi pada masyarakat lokal. Selain itu, penelitian ini menegaskan pentingnya peran ulama lokal sebagai agen simbolik yang menjaga kesinambungan nilai-nilai Islam dan kearifan budaya dalam masyarakat pesisir.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Additional Information: | TIDAK ADA LAMPIRAN |
| Uncontrolled Keywords: | Islamisasi; modal simbolik; otoritas keagamaan; ulama lokal; masyarakat pesisir; Pangandaran |
| Subjects: | Islam |
| Divisions: | Pascasarjana Program Magister > Program Studi Studi Agama Agama |
| Depositing User: | Jenjen Zainal Abidin |
| Date Deposited: | 22 Jun 2026 03:16 |
| Last Modified: | 22 Jun 2026 03:16 |
| URI: | https://digilib.uinsgd.ac.id/id/eprint/132966 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |



