Ulum, Muhammad Pathul (2026) Hukum salat menggunakan pakaian bernajis karena darurat pandangan Imam Nawawi dan Imam Ibnu Qudamah. Sarjana thesis, UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
|
Text (COVER)
COVER.pdf Download (2MB) | Preview |
|
|
Text (ABSTRAK)
ABSTRAK.pdf Download (2MB) | Preview |
|
|
Text (LEMBAR PERNYATAAN)
LEMBAR PERNYATAAN.pdf Download (2MB) | Preview |
|
|
Text (DAFTAR ISI)
DAFTAR ISI.pdf Download (2MB) | Preview |
|
|
Text (BAB I)
BAB I.pdf Download (2MB) | Preview |
|
|
Text (BAB II)
BAB II.pdf Restricted to Registered users only Download (2MB) |
||
|
Text (BAB III)
BAB III.pdf Restricted to Registered users only Download (2MB) |
||
|
Text (BAB IV)
BAB IV.pdf Restricted to Registered users only Download (2MB) |
||
|
Text (BAB V)
BAB V.pdf Restricted to Registered users only Download (2MB) |
||
|
Text (DAFTAR PUSTAKA)
DAFTAR PUSTAKA.pdf Restricted to Registered users only Download (2MB) |
Abstract
Pelaksanaan ibadah salat mensyaratkan kesucian pakaian dari najis dan kewajiban menutup aurat. Dalam kehidupan modern, kondisi darurat seperti operasi SAR, penugasan militer di daerah konflik, atau korban bencana kerap menempatkan Muslim pada situasi hanya memiliki pakaian bernajis tanpa kemampuan mensucikannya. Kondisi ini menimbulkan benturan normatif antara dua syarat sah salat sekaligus dan melahirkan perbedaan pandangan, khususnya antara Imam Nawawi (Syafi'i) dan Imam Ibnu Qudamah (Hanbali). Penelitian ini bertujuan: (1) menganalisis pandangan Imam Nawawi tentang hukum salat menggunakan pakaian bernajis dalam kondisi darurat; (2) menganalisis pandangan Imam Ibnu Qudamah tentang hal yang sama; dan (3) menganalisis secara komparatif perbedaan keduanya dari segi dalil, metode istinbath, dan implikasi hukumnya. Penelitian ini dianalisis menggunakan tiga teori: fiqih muqaran untuk membandingkan pandangan kedua imam; maqashid al-syari'ah untuk mengukur keselarasannya dengan tujuan pokok syari'at; dan maslahah mursalah untuk menimbang relevansinya secara kontemporer. Kerangka ini didukung tiga kaidah fiqhiyah: al-dharurat tubih al-mahzurat, al-dharurah tuqaddaru bi-qadariha, dan al-masyaqqah tajlib al-taysir. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan teknik kepustakaan (library research) dan pendekatan normatif-komparatif. Sumber primer adalah al-Majmu' Syarh al-Muhaddzab (Nawawi) dan al-Mughni Syarh al-Kabir (Ibnu Qudamah), dianalisis secara metode deskriptif-analitis dan komparatif. Hasil penelitian: pertama, Imam Nawawi menetapkan thaharah dari najis tidak dapat dikompromikan, sehingga pilihan paling sahih (al-ashah) adalah salat tanpa pakaian sah dan tidak wajib diulang; kedua, Imam Ibnu Qudamah berdasarkan al-manshush Imam Ahmad mewajibkan salat dengan pakaian bernajis demi menjaga aurat, dengan kewajiban i'adah setelah memperoleh pakaian suci; ketiga, perbedaan keduanya bersifat metodologis bukan kontradiktif pada tiga titik: prioritas syarat sah salat, cakupan rukhsah, dan konsekuensi i'adah. Pandangan Nawawi lebih sesuai untuk kondisi darurat privat individual, sedangkan Ibnu Qudamah untuk kondisi darurat di ruang publik.
| Item Type: | Thesis (Sarjana) |
|---|---|
| Additional Information: | tidak ada lampiran |
| Uncontrolled Keywords: | Salat; Pakaian Bernajis; Darurat; Imam Nawawi; Imam Ibnu Qudamah; Fiqih Muqaran; Thaharah, I'adah |
| Subjects: | Islam Fikih (Fiqih, Fiqh), Hukum Islam |
| Divisions: | Fakultas Syariah dan Hukum > Program Studi Perbandingan Madzhab dan Hukum |
| Depositing User: | Muhammad Pathul Ulum |
| Date Deposited: | 22 Jun 2026 04:09 |
| Last Modified: | 22 Jun 2026 04:09 |
| URI: | https://digilib.uinsgd.ac.id/id/eprint/132995 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |



