Satyva, Oriza (2026) Tradisi Ruwatan Ageung Gunung Manglayang Desa Cibiru Wetan Kabupaten Bandung 2019-2025. Sarjana thesis, UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
|
Text (COVER)
1_cover.pdf Download (93kB) | Preview |
|
|
Text (ABSTRAK)
2_abstrak.pdf Download (127kB) | Preview |
|
|
Text (SK BEBAS PLAGIARISM)
3_skbebasplagiarism.pdf Download (247kB) | Preview |
|
|
Text (DAFTAR ISI)
4_daftarisi.pdf Download (179kB) | Preview |
|
|
Text (BAB I)
5_bab1.pdf Download (341kB) | Preview |
|
|
Text (BAB II)
6_bab2.pdf Restricted to Registered users only Download (493kB) | Request a copy |
||
|
Text (BAB III)
7_bab3.pdf Restricted to Registered users only Download (462kB) | Request a copy |
||
|
Text (BAB IV)
8_bab4.pdf Restricted to Registered users only Download (97kB) | Request a copy |
||
|
Text (DAFTAR PUSTAKA)
9_daftarpustaka.pdf Restricted to Registered users only Download (178kB) | Request a copy |
||
|
Text (LAMPIRAN)
10_lampiran.pdf Restricted to Repository staff only Download (1MB) | Request a copy |
Abstract
Penelitian ini membahas Tradisi Ruwatan Ageung Gunung Manglayang di Desa Cibiru Wetan, Kabupaten Bandung, tahun 2019–2025. Tradisi masyarakat Sunda tersebut berkembang dari hubungan masyarakat dengan Gunung Manglayang sebagai ruang hidup, sumber daya alam, pariwisata, dan ruang budaya. Ruwatan Ageung menjadi sarana untuk mempertahankan warisan budaya, memperkuat kebersamaan masyarakat, serta menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga kawasan Gunung Manglayang di tengah perubahan sosial dan perkembangan pariwisata.Penelitian ini bertujuan menjelaskan sejarah kemunculan Ruwatan Ageung Gunung Manglayang serta mendeskripsikan pelaksanaan, perkembangan, nilai, dan bentuk penyesuaiannya selama tahun 2019–2025. Penelitian juga menjelaskan peran tokoh adat, pemerintah desa, Perhutani, komunitas budaya, dan masyarakat dalam mempertahankan nilai tradisi. Metode yang digunakan adalah metode penelitian sejarah melalui tahap heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Sumber primer diperoleh melalui wawancara dengan tokoh adat, kuncen, masyarakat, dan pemerintah desa, serta pengamatan dan dokumentasi di kawasan Batu Kuda. Sumber sekunder berasal dari buku, jurnal, skripsi, dan sumber daring. Data diuji melalui kritik ekstern dan intern, dikoroborasi, kemudian dianalisis menggunakan teori perubahan sosial budaya dan konsep local genius. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ruwatan Ageung berakar pada hubungan masyarakat dengan Gunung Manglayang sebagai sumber kehidupan dan ruang budaya. Tradisi ini terhenti pada tahun 2005–2018 akibat perbedaan pandangan keagamaan, perkembangan pariwisata, dan berkurangnya ruang pelaksanaan, kemudian direvitalisasi pada tahun 2019 melalui musyawarah berbagai pihak. Pada tahun 2019–2025, tradisi berkembang menjadi kegiatan tahunan yang lebih terbuka dengan rangkaian iring-iringan menuju Batu Kuda, sanduk-sanduk, rajah dan kidung, pamali, ngarekes, penyembelihan hewan, kesenian Sunda, lungsur sajen, serta balakecrakan. Pelaksanaannya disesuaikan melalui tawasul, selawat, doa Islam, makan bersama, dan dukungan pemerintah desa. Penyesuaian tersebut tetap mempertahankan nilai religius, ekologis, sosial, budaya, dan pendidikan sebagai media pelestarian alam, solidaritas, dan pewarisan budaya Sunda.
| Item Type: | Thesis (Sarjana) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Ruwatan Ageung; Gunung Manglayang; Perubahan Sosial; Kearifan Lokal |
| Subjects: | Culture and Institutions |
| Divisions: | Fakultas Adab dan Humaniora > Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam |
| Depositing User: | Oriza Oriza Oriza |
| Date Deposited: | 14 Sep 2026 07:24 |
| Last Modified: | 14 Sep 2026 07:24 |
| URI: | https://digilib.uinsgd.ac.id/id/eprint/142023 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |



