Fauzi, Rafly Ahmad (2026) Studi komparatif terhadap penafsiran monoteisme agama-agama semitik dalam Al-Qur'an. Masters thesis, UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
|
Text (COVER)
cover.pdf Download (239kB) | Preview |
|
|
Text (ABSTRAK)
abstrak.pdf Download (366kB) | Preview |
|
|
Text (BEBAS PLAGIASI)
Rafly Ahmad Fauzi Plagiasi.pdf Download (535kB) | Preview |
|
|
Text (DAFTAR ISI)
daftar isi.pdf Download (216kB) | Preview |
|
|
Text (BAB I)
bab 1.pdf Download (462kB) | Preview |
|
|
Text (BAB II)
bab 2.pdf Restricted to Registered users only Download (641kB) |
||
|
Text (BAB III)
bab 3.pdf Restricted to Registered users only Download (227kB) |
||
|
Text (BAB IV)
bab 4.pdf Restricted to Registered users only Download (1MB) |
||
|
Text (BAB V)
bab 5.pdf Restricted to Registered users only Download (307kB) |
||
|
Text (DAFTAR PUSTAKA)
dapus.pdf Restricted to Registered users only Download (333kB) |
Abstract
Penelitian ini berangkat dari asumsi bahwa monoteisme merupakan inti ajaran agama-agama Semitik, Berdasarkan delapan mufasir, monoteisme Al-Qur'an menegaskan keesaan Allah dalam ketuhanan, ibadah, penciptaan, kekuasaan, dan kedaulatan, serta menolak syirik dan penyerupaan. Perbedaan tafsir terletak pada cara penjelasan dan argumentasinya, bukan pada hakikat tauhid. Tanakh, Perjanjian Baru, dan Al-Qur’an merumuskan konsep keesaan Tuhan secara berbeda sehingga melahirkan beragam penafsiran, khususnya mengenai sebutan Anak Allah, doktrin Trinitas dalam QS. al-Mā’idah [5]:72–73, dan penyebutan Uzair sebagai anak Allah. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep monoteisme dalam Tanakh, Perjanjian Baru, dan Al-Qur’an, mengidentifikasi persamaan serta perbedaannya, serta mengkaji beberapa pandangan mufasir terhadap konsep tersebut. Penelitian ini merupakan studi kepustakaan (library research) dengan melakukan komparasi terhadap kitab-kitab Semitik dan metode tafsir muqāran melalui perbandingan penafsiran para mufasir yang diakhiri dengan proses tarjih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tanakh dan Al-Qur’an memiliki kesamaan mendasar dalam konsep ketuhanan, yakni menegaskan keesaan Tuhan yang mutlak, tidak terbagi, dan tidak beranak, sebagaimana tercermin dalam Shema (Ulangan 6:4) dan Surah al-Ikhlāṣ. Adapun Perjanjian Baru tetap memuat deklarasi monoteisme Yesus kepada Bapa (Yoh. 17:3), namun juga menghadirkan formulasi Trinitas dalam bagian-bagian lain. Kajian tafsir menunjukkan bahwa mufasir berbeda dalam memahami Trinitas dengan memasukkan Maryam sebagai salah satu unsur ketuhanan sebagaimana terdapat dalam tafsir Muqātil ibn Sulaymān akan tetapi hal demikian bukanlah satu-satunya wacana mengenai Trinitas, penelitian menunjukan bahwa Al-Ṭabarī yang wafat pada tahun 310 H telah menjelaskan formulasi Trinitas secara lebih sistematis mesikipun penjelasnnya belum seutuhnya lengkap. Pada abad ke empat hijriah mufasir telah memahami doktrin Trinitas secara lebih sesuai dengan teologi Kristen arus utama dengan demikian kritik Al-Qur’an dipahami sebagai kritik terhadap formulasi teologis Kristen secara umum, bukan semata-mata terhadap sekte yang mendewakan Maryam. Sementara itu, mengenai Uzair sebagai anak Allah, penelitian menunjukan bahwa keyakinan tersebut bukan merupakan doktrin resmi Yudaisme, melainkan keyakinan yang dianut oleh kelompok tertentu atau pada periode waktu tertentu.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Monoteisme; Tanakh; Perjanjian Baru; al-Qur’an; Komparasi Tafsir; |
| Subjects: | Religious Mythology > Interreligious Relations Old Testament, Tanakh New Testament Al-Qur'an (Al Qur'an, Alquran, Quran) dan Ilmu yang Berkaitan Al-Qur'an (Al Qur'an, Alquran, Quran) dan Ilmu yang Berkaitan > Tafsir Al-Qur'an |
| Divisions: | Pascasarjana Program Magister > Program Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir |
| Depositing User: | Rafly Ahmad Fauzi |
| Date Deposited: | 16 Sep 2026 04:28 |
| Last Modified: | 16 Sep 2026 04:28 |
| URI: | https://digilib.uinsgd.ac.id/id/eprint/142514 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |



