Kepemimpinan suami menurut KHI, implikasinya terhadap perceraian di lingkungan Pengadilan Tinggi Agama Jawa Barat dan kontribusinya terhadap pengembangan sistem hukum nasional

Hilmi, Urfan (2023) Kepemimpinan suami menurut KHI, implikasinya terhadap perceraian di lingkungan Pengadilan Tinggi Agama Jawa Barat dan kontribusinya terhadap pengembangan sistem hukum nasional. Doktoral thesis, UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

[img]
Preview
Text (COVER)
1_Cover.pdf

Download (85kB) | Preview
[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
2_abstrak.pdf

Download (214kB) | Preview
[img]
Preview
Text (DAFTAR ISI)
3_daftarisi.pdf

Download (157kB) | Preview
[img]
Preview
Text (BAB I)
4_bab1.pdf

Download (530kB) | Preview
[img] Text (BAB II)
5_bab2.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB) | Request a copy
[img] Text (BAB III)
6_bab3.pdf
Restricted to Registered users only

Download (89kB) | Request a copy
[img] Text (BAB IV)
7_bab4.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB) | Request a copy
[img]
Preview
Text (BAB V)
8_bab5.pdf

Download (108kB) | Preview
[img] Text (DAFTAR PUSTAKA)
9_daftarpustaka.pdf
Restricted to Registered users only

Download (487kB) | Request a copy

Abstract

INDONESIA : Suami sebagai kepala keluarga memiliki beberapa kewajiban yang melekat dalam dirinya, sebagaimana yang telah diatur dalam KHI Pasal 80 Ayat 1 sampai 4. Faktanya kewajiban-kewajiban tersebut tidak selamanya mampu dipenuhi oleh setiap suami. Maka dalam hal suami tidak mampu melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara keseluruhan dari pasal tersebut, KHI belum mengatur konsekuensi hukum yang akan diterima oleh seorang suami i’sar (tidak mampu menjalankan kewajiban-kewajibannya). Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menganalisis kedudukan suami menurut fiqih dan hukum Islam di Indonesia. 2) menganalisis kepemimpinan suami implikasinya terhadap perceraian di lingkungan Pengadilan Tingga Agama Jawa Barat 3) menganalisisi kepemimpinan suami dalam rumah tangga dapat berubah dengan adanya pergeseran peran istri 4) menganalisis kontribusi kepemimpinan suami dan pergeseran peran istri dalam rumah tangga terhadap sistem hukum nasional. Penelitian ini disandarkan pada beberapa teori sebagai landasan pemikiran; sebagai teori makro (grand theory) dihadirkan teiori kepemimpinan suamii. Pada level pertengahan (middle ranges theory) dipilih teiorii perceraian. Dan untuk tataran aplikatif (applied theory) dimunculkan teori pembaharuan hukum Islam. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan pendekatan yuridis normatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data-data sekunder meliputi (a) bahan hukum primer, (b) bahan hukum sekunder, dan (c) bahan hukum tersier yang diperoleh melalui studi kepustakaan (library research). Data yang berhasil dihimpun dianalisis secara kualitatif dengan penguraian secara deskriptif analitis. Dari hasil penelitian didapat bahwa: Pertama, Dalam fiqh suami adalah pemimpin rumah tangga dengan syarat mampu memberi nafkah. Hal demikian telah diatur pula dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Bab VI Pasal 31 ayat (3), Pasal 34 ayat (1) dan Kompilasi Hukum Islam Pasal 79 ayat (1) dan Pasal 80 ayat (4) mengenai kewajiban suami memberi nafkah pada istrinya. Kedua, Suami sebagai pemimpin yang melalaikan atau tidak mampu memberikan nafkah telah menimbulkan perceraian sebagaimana yang terjadi di Pengadilan Agama di Lingkungan Pengadilan Tinggi Agama Jawa Barat. Dari 15 putusan perceraian Pengadilan Agama yang penulis teliti, alasan perceraian itu 100 persen (%) duduk perkaranya suami tidak memberikan nafkah pada keluarganya baik dengan alasan melalaikan atau karena ketidakmampuan. Ketiga, Pergeseran peran istri dalam melaksanakan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga menimbulkan dampak pergeseran kedudukan, fungsi dan peran kepemimpinan. Sehingga perilaku kepemimpinan dalam rumah tangga diambil alih oleh istri. Keempat Kontribusinya terhadap pergeseran kepemimpinan suami-istri dalam rumah tangga adalah perlunya perlindungan hukum yang dapat mengantisipasi meningkatnya perceraian dan pengelolaan rumah tangga yang harmonis sesuai dengan tujuan perkawinan. Oleh karena itu perlu ada pasal baru tentang batas-batas yang jelas mengenai konsep kepemimpinan dalam rumah tangga untuk suami dan istri. ENGLISH : The husband as the head of the family has several obligations inherent in him, as regulated in KHI Article 80 Paragraphs 1 to 4. The fact is that these obligations are not always able to be fulfilled by every husband. So in the event that the husband is unable to carry out his obligations as a whole from the article, KHI has not regulated the legal consequences that will be received by an I'sar husband (unable to carry out his obligations). This research aims to: 1) To analyze the position of the husband according to fiqh and Islamic law in Indonesia. 2) To analyze the husband's leadership implications for divorce in the West Java Religious Court environment. 3) To analyze the husband's leadership in the household can change with the shifting role of the wife. 4) To analyze the contribution of husband's leadership and the shifting role of wives in the household to the national legal system. This research is based on several theories as a foundation of thought; as a macro theory (grand theory), the theory of husband leadership is presented. At the mid-level (middle ranges theory), the theory of divorce was chosen. And for the applied level (applied theory), the theory of Islamic legal reform was raised. This research is a qualitative study that uses a normative juridical approach. The data used in this research are secondary data including (a) primary legal materials, (b) secondary legal materials, and (c) tertiary legal materials obtained through library research. The data collected is analyzed qualitatively with descriptive analytical description. From the results of the study found that: First, In fiqh, the husband is the leader of the household with the condition that he is able to provide maintenance. This has also been regulated in Law Number 1 Year 1974 Chapter VI article 31 paragraph (3), article 34 paragraph (1) and the Compilation of Islamic Law article 79 paragraph (1) and article 80 paragraph (4) regarding the husband's obligation to provide maintenance to his wife. Second, the husband as a leader who neglects or is unable to provide maintenance has caused divorce as happened in the Religious Courts in the West Java Religious High Court Environment. Of the 15 Religious Court divorce decisions that the author examined, the reason for the divorce was 100 percent (%) sitting the case that the husband did not provide maintenance to his family either on the grounds of neglect or incapacity. Third, the shifting role of wives in carrying out their obligations as housewives has the impact of shifting positions, functions and leadership roles. So that leadership behavior in the household is taken over by the wife. Fourth, the contribution to the shift in husband-wife leadership in the household is the need for legal protection that can anticipate the increase in divorce and harmonious household management in accordance with the purpose of marriage. Therefore, there needs to be a new article on clear boundaries regarding the concept of leadership in the household for husbands and wives. ARAB : على الزوج بصفته رب الأسرة عدة التزامات متأصلة فيه، على النحو المنصوص عليه في المادة 80 من KHI الفقرات 1 إلى 4. في الواقع، لا يمكن دائمًا الوفاء بهذه الالتزامات من قبل كل زوج. لذلك، في حالة عدم قدرة الزوج على تنفيذ التزاماته ككل في هذه المقالة، لم ينظم KHI التبعات القانونية التي سيتحملها زوج الإعصار (غير قادر على تنفيذ التزاماته). يهدف هذا البحث إلى: 1) تحليل وضع الأزواج في الفقه الإسلامي والقانون في إندونيسيا. 2) تحليل قيادة الزوج في الأسرة والتي يمكن أن تتغير مع تغير دور الزوجة. 3) تحليل الآثار المترتبة على قيادة الزوج للطلاق في المحكمة الدينية العليا في جاوة الغربية. 4) تحليل مساهمة قيادة الزوج والتحول في دور الزوجة في الأسرة إلى النظام القانوني الوطني. يعتمد هذا البحث على عدة نظريات كأساس للتفكير؛ كنظرية كلية (النظرية الكبرى)، يتم تقديم نظرية قيادة الزوج. وفي المستوى المتوسط (نظرية المدى المتوسط) يتم اختيار نظرية الطلاق. وعلى المستوى التطبيقي (النظرية التطبيقية) ظهرت نظرية الإصلاح القانوني الإسلامي. هذا البحث هو بحث نوعي يستخدم المنهج القانوني المعياري. البيانات المستخدمة في هذا البحث هي بيانات ثانوية تشمل (أ) المواد القانونية الأولية، (ب) المواد القانونية الثانوية، و (ج) المواد القانونية الثالثة التي تم الحصول عليها من خلال أبحاث المكتبات. وتم تحليل البيانات التي تم جمعها نوعيا مع التحليل الوصفي التحليلي.. ومن نتائج البحث تبين ما يلي: أولاً، فقها الزوج هو رب الأسرة إذا كان قادراً على النفقة. وقد تم تنظيم ذلك أيضًا في القانون رقم 1 لعام 1974 الفصل السادس المادة 31 الفقرة (3)، والمادة 34 الفقرة (1) ومجمع الشريعة الإسلامية المادة 79 الفقرة (1) والمادة 80 الفقرة (4) فيما يتعلق بالتزام الزوج توفير النفقة لزوجته. ثانياً، أدى إهمال الزوج أو عدم قدرته على توفير لقمة العيش إلى الطلاق، كما حدث في المحكمة الدينية في المحكمة الدينية العليا في جاوة الغربية. ومن بين قرارات الطلاق الخمسة عشر التي أصدرتها المحكمة الدينية والتي فحصها المؤلف، كانت 100 بالمائة (٪) من أسباب الطلاق مستندة إلى عدم قيام الزوج بتقديم الدعم لأسرته، إما لأسباب الإهمال أو بسبب عدم القدرة. ثالثا، إن التحول في دور الزوجة في القيام بالتزاماتها كربة منزل له أثر التحول في المنصب والوظيفة والدور القيادي. وبالتالي فإن السلوك القيادي في الأسرة تتولى الزوجة. المساهمة الرابعة في التحول في قيادة الزوج والزوجة في الأسرة هي الحاجة إلى الحماية القانونية التي يمكن أن تتوقع زيادة الطلاق وإدارة الأسرة المتناغمة وفقا لأهداف الزواج. ولذلك لا بد من مادة جديدة في حدود واضحة لمفهوم القيادة في الأسرة للأزواج والزوجات.

Item Type: Thesis (Doktoral)
Uncontrolled Keywords: kepemimpinan suami; KHI; perceraian; PTA Jawa Barat; kontribusi; hukum nasional
Subjects: Islam
Islam > Marriage and Family Life
Law > Law Reform
Divisions: Pascasarjana Program Doktor > Program Studi Hukum Islam > Konsentrasi Hukum Keluarga
Depositing User: Hilmi Urfan
Date Deposited: 22 Feb 2024 04:30
Last Modified: 22 Feb 2024 04:30
URI: https://digilib.uinsgd.ac.id/id/eprint/85039

Actions (login required)

View Item View Item