Batal dan sahnya akad dalam hukum ekonomi syariah

Amany, Amany and Jaenudin, Jaenudin Batal dan sahnya akad dalam hukum ekonomi syariah. Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. (Unpublished)

[img]
Preview
Text
09 BATAL DAN SAHNYA AKAD DALAM HUKUM EKONOMI SYARIAH.pdf

Download (224kB) | Preview

Abstract

Suatu akad baru akan dapat dikatakan sah apabila telah memenuhi syarat akad tersebut. Secara umum yang menjadi syarat sahnya suatu akad /perjanjian adalah : a. Tidak menyalahi hukum syari’ah b. Harus sama ridha dan ada pilihan Akad yang dibuat oleh masing-masing pihak harus didasari oleh keridha’an dari masing-masing pihak. Apabila masing-masing pihak sepakat dan sama-sama ridha, maka isi dari perjanjian dapat dibenarkan dengan kata lain harus berdasarkan keinginan dan kemauan dari masing-masing pihak yang melakukan perjanjian. Di dalam suatu perjanjian para pihak berhak untuk memilih untuk melakukan perjanjian atau menolak dari isi perjanjian tersebut, sebab di dalam suatu perjanjian tidak ada unsur paksaan, maka perjanjian tesebut tidak dapat dibenarkan dan tidak ada kekuatan hukum terhadap perjanjian ini. c. Harus jelas dan gamblang Di dalam agama Islam, apabila seseorang melaksanakan sesuatu perjanjian dengan pihak lain, maka isi perjanjian tersebut haruslah jelas dan terang, tidak mengandung unsur kesamaran (penipuan) yang tersembunyi di balik perjanjian. Apabila terdapat kesamaran di dalam perjanjian maka akan menimbulkan hal-hal yang merugikan salah satu pihak yang dapat menimbulkan permusuhan dikemudian hari, akibat dari perjanjian yang dilaksanakan secara tidak jelas. Dengan demikian, pada saat melaksanakan perjanjian, maka masing-masing pihak haruslah mempunyai sikap yang sama tentang apa yang mereka perjanjikan baik itu terhadap isi perjanjian maupun hal-hal yang timbul dikemudian hari. Legalitas dari akad di dalam hukum Islam ada dua: 1. Akad Shahih atau Sah Shahih atau sah yang artinya semua rukun akad beserta semua kondisinya sudah terpenuhi. 2. Akad Batil Akad batil yaitu apabila salah satu dari rukun akad tidak terpenuhi maka akad tersebut menjadi batal atau tidak sah, apalagi kalau ada unsur Maisir, Gharar dan Riba di dalamnya. Maisir adalah segala permainan yang mengandung unsur taruhan, dimana pihak yang menang mengambil harta atau materi dari pihak yang kalah. Gharar diibaratkan dengan suatu keadaan yang tidak menyajikan informasi memadai tentang subjek atau objek akad. Sedangkan Riba adalah setiap diterima. Ahli-ahli hukum Hanafi mendifinisikan akad batil secara singkat sebagai “akad yang secara shara’ tidak sah pokok dan sifatnya”. Yang dimaksud dengan akad yang pokoknya tidak memenuhi ketentuan shara dan karena itu tidak sah adalah akad yang tidak memenuhi seluruh rukun yang tiga dan syarat terbentuknya akad yang tujuh. Apabila salah satu dari rukun dan syarat terbentuknya akad tersebut tidak terpenuhi, maka akad itu disebut akad batil yang tidak ada wujudnya. Apabila pokoknya tidak sah, otomatis tidak sah sifatnya. Hukum dari akad batil ini ada lima kriteria, yaitu: 1. Bahwa akad tersebut tidak ada wujudnya secara syar’i dan oleh karena itu tidak melahirkan akibat hukum apa pun. 2. Apabila telah dilaksanakan oleh para pihak, akad batil itu wajib dikembalikan kepada keadaan semula pada waktu sebelum dilaksanakannya akad batil tersebut. 3. Akad batil tidak berlaku pembenaran dengan cara memberi izin. 4. Akad batil tidak perlu di-fasakh (dilakukan pembatalan) karena akad ini sejak semula adalah batal dan tidak pernah ada. 5. Ketentuan lwat waktu (at taqadum) tidak berlaku terhadap kebatalan. Wahbah Az-Zuhaili mengatakan tentang jual beli yang dilarang dalam beberapa kategori: Pertama; karena kecacatan dan ketidaksempurnaan dari aqidan. Seperti jual beli yang dilakukan oleh orang gila, anak kecil, orang yang diancam atau dipaksa, dan seorang mahjur ‘alaih. Kedua; karena kecacatan dan ketidaksempurnaan syarat dari sighah. Seperti jual beli dengan syarat yang dilarang, tidak ada kesesuaian antara ijab dan qabul, dan jual beli dengan kata atau isyarat yang tidak difahami. Ketiga; karena kecacatan dan ketidaksempurnaan syarat dari mahallul ‘aqd. Seperti jual beli barang yang haram dan najis, jual beli ma’dum, jual beli barang yang tidak bisa diterima langsung, termasuk di dalamnya jual beli yang mengandung unsur gharar. Keempat; karena ada sifat atau syarat yang dilarang, misalnya bai’ ‘inah, riba, jual beli orang kota dengan harga mahal untuk orang desa yang belum mengetahui harga, jual beli saat panggilan shalat jumat dan sebagainya.

Item Type: Other
Uncontrolled Keywords: Batal; Sah; Akad; Hukum Ekonomi Syariah;
Subjects: Islam > Islam and Economics
Culture and Institutions > Economic Institutions
Econmics > Economic Situation and Conditions
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Program Studi Muamalah
Depositing User: Jaenudin Jaenudin
Date Deposited: 12 Feb 2026 02:32
Last Modified: 12 Feb 2026 02:32
URI: https://digilib.uinsgd.ac.id/id/eprint/128093

Actions (login required)

View Item View Item