The historical development of Saung Budaya Sumedang : Center for arts and culture in Jatinangor (2000-2023)

Amalia, Lenny Salsha (2025) The historical development of Saung Budaya Sumedang : Center for arts and culture in Jatinangor (2000-2023). HISTORIA : JURNAL PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH (UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO), ١٤ (١). ٢٣١-٢٤٦. ISSN 24428728

[img]
Preview
Text
kian,+11799-38339-2-ED+EDITOR+NO+59+14+1+(20).pdf

Download (445kB) | Preview
Official URL: https://ojs.fkip.ummetro.ac.id/index.php/sejarah/a...

Abstract

ENGLISH: The Saung Budaya Sumedang (Sabusu) has played a pivotal role as a center for arts and culture in Jatinangor, Sumedang Regency, since its establishment in 2000. This study aims to examine the historical development of Sabusu, analyzing its contributions to preserving local arts and culture amidst evolving social dynamics from 2000 to 2023. Employing historical research methods encompassing heuristics, source criticism, interpretation, and historiography, the study draws on primary and secondary data, including interviews, videos, and related academic literature. Results indicate that Sabusu has undergone significant transformations, including name changes and shifts in management. Initially a hub for traditional arts, Sabusu faced challenges due to privatization and commercialization, leading to diminished cultural activities. However, since 2019, revitalization efforts by the Ibu Djati Foundation have restored its role as a cultural and educational space. Despite facing modern challenges such as globalization and shifting youth interests, Sabusu continues to adapt by organizing traditional art programs and fostering community engagement. This study underscores the importance of Sabusu as a model for cultural preservation and its potential to inspire similar initiatives in Indonesia. INDONESIA: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perkembangan sejarah Saung Budaya Sumedang (Sabusu) dengan menganalisis kontribusinya dalam melestarikan seni dan budaya lokal di tengah dinamika sosial yang terus berubah dari tahun 2000 hingga 2023. Dengan menggunakan metode penelitian sejarah yang mencakup heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi, penelitian ini mengandalkan data primer dan sekunder, termasuk wawancara, video, dan literatur terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sabusu telah mengalami berbagai transformasi signifikan, termasuk perubahan nama dan pergeseran manajemen. Pada awalnya, Sabusu berfungsi sebagai pusat seni tradisional, namun menghadapi tantangan akibat privatisasi dan komersialisasi yang menyebabkan menurunnya aktivitas budaya. Namun, sejak tahun 2019, upaya revitalisasi oleh Yayasan Ibu Djati berhasil mengembalikan peran Sabusu sebagai ruang budaya dan pendidikan. Meskipun menghadapi tantangan modern seperti globalisasi dan perubahan minat generasi muda, Sabusu terus beradaptasi dengan menyelenggarakan program seni tradisional dan mendorong keterlibatan komunitas. Penelitian ini menegaskan pentingnya Sabusu sebagai model pelestarian budaya dan potensinya untuk menginspirasi inisiatif serupa di Indonesia.

Item Type: Article
Uncontrolled Keywords: history;saung budaya sumedang;jatinangor;cultural arts center
Subjects: History of Southeast Asia > Period 1970 -1999
Divisions: Fakultas Adab dan Humaniora > Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam
Depositing User: Lenny Salsha Amalia
Date Deposited: 10 Jul 2026 01:25
Last Modified: 10 Jul 2026 01:25
URI: https://digilib.uinsgd.ac.id/id/eprint/134463

Actions (login required)

View Item View Item