Syihabuddin, Ali Azhar (2026) Antara dunia Melayu dan Turki-Utsmani: jejak hubungan diplomatik antara kerajaan Riau-Lingga dan Kesultanan Utsmani (1856-1858). Sarjana thesis, UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
|
Text
1_cover.pdf Download (144kB) | Preview |
|
|
Text
2_abstrak.pdf Download (142kB) | Preview |
|
|
Text
3_skbebasplagiarism.pdf Download (269kB) | Preview |
|
|
Text
4_daftarisi.pdf Download (165kB) | Preview |
|
|
Text
5_bab1.pdf Download (374kB) | Preview |
|
|
Text
6_bab2.pdf Restricted to Registered users only Download (576kB) | Request a copy |
||
|
Text
7_bab3.pdf Restricted to Registered users only Download (851kB) | Request a copy |
||
|
Text
8_bab4.pdf Restricted to Registered users only Download (148kB) | Request a copy |
||
|
Text
9_daftarpustaka.pdf Restricted to Registered users only Download (248kB) | Request a copy |
||
|
Text
10_lampiran.pdf Restricted to Repository staff only Download (1MB) | Request a copy |
Abstract
Ekspansi kolonial Belanda pada abad ke-19—melalui Perang Riau (1782–1784), Traktat London (1824), dan Kontrak 1830—mempersempit kedaulatan Kerajaan Riau-Lingga sekaligus membatasi hak hubungan luar negerinya. Di tengah tekanan tersebut, jaringan haji, ulama, dan tarekat yang menghubungkan Dunia Melayu dengan Mekkah dan Istanbul memperkuat pandangan bahwa Kesultanan Utsmani adalah pusat legitimasi politik sekaligus simbol persatuan umat Islam. Pada 1856, Yang Dipertuan Muda Raja Ali Ja'far mengirimkan surat kepada Sultan Abdülmecid I, menandai awal hubungan diplomatik Riau-Lingga–Utsmani yang direspons pada 1858. Penelitian ini bertujuan mengetahui, pertama, konteks sejarah yang melatarbelakangi hubungan awal Dunia Melayu dan Kesultanan Utsmani; dan kedua, proses terjalinnya hubungan diplomatik antara Kerajaan Riau-Lingga dan Kesultanan Utsmani pada 1856–1858. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi dengan pendekatan sosiologi sejarah. Sumber penelitian terdiri atas arsip Kesultanan Utsmani (Başkanlığı Osmanlı Arşivleri/BOA), surat-surat diplomatik, dokumen sezaman, serta naskah Melayu yang berkaitan dengan hubungan Riau-Lingga dan Kesultanan Utsmani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan diplomatik Riau-Lingga dengan Kesultanan Utsmani berakar pada keterhubungan historis Dunia Melayu dengan pusat-pusat Islam sejak abad ke-16, melalui jaringan perdagangan, haji, ulama, dan tarekat, serta ditopang oleh mentifak "Raja Rum" yang menegaskan otoritas Utsmani sebagai Khadimul-Haramain. Di tengah kedaulatan yang dibatasi Kontrak 1830, elite Bugis pemegang jabatan Yang Dipertuan Muda memanfaatkan jaringan keagamaan tersebut—termasuk Tarekat Naqsyabandiyah-Khalidiyah—untuk membangun legitimasi politik dari Utsmani. Surat Raja Ali Ja'far kepada Sultan Abdülmecid dikirim melalui utusan dan jaringan ulama di Mekkah menuju Istanbul; Utsmani menerima misi tersebut dan meresponsnya dengan medali Mecidi kelas tiga serta izin pencantuman nama Sultan dalam khotbah Jumat. Pengakuan ini menegaskan bahwa hubungan tersebut bukan sekadar upaya mencari perlindungan politik, melainkan strategi Riau-Lingga menempatkan diri dalam arus utama dunia Islam—namun tetap bersifat simbolik, tanpa dukungan politik-militer nyata, karena Utsmani sendiri terikat kebijakan Tanzimat pascakongres Paris 1856, sehingga hubungan ini kuat secara ideologis tetapi rapuh di hadapan hegemoni kolonial Belanda.
| Item Type: | Thesis (Sarjana) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Riau-Lingga; Kesultanan Utsmani; Hubungan Diplomatik; Dunia Melayu; Kolonialisme Belanda; Jaringan Islam; Abad ke-19 |
| Subjects: | Islam > Islamic History History of Southeast Asia > History of Indonesia |
| Divisions: | Fakultas Adab dan Humaniora > Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam |
| Depositing User: | Ali Azhar Syihabuddin |
| Date Deposited: | 23 Aug 2026 04:20 |
| Last Modified: | 23 Aug 2026 04:20 |
| URI: | https://digilib.uinsgd.ac.id/id/eprint/139029 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |



