Jaelani, Muhamad Ega (2026) Hukum Qadha Salat Fardhu tanpa udzur syar’i menurut Ibnu Hajar Al-Haitami dan Imam Ibnu Hazm. Sarjana thesis, UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
|
Text (COVER)
COVER.pdf Download (126kB) | Preview |
|
|
Text (ABSTRAK)
ABSTRAK.pdf Download (161kB) | Preview |
|
|
Text (SURAT PERNYATAAN)
SURAT PERNYATAAN.pdf Download (147kB) | Preview |
|
|
Text (DAFTAR ISI)
DAFTAR ISI.pdf Download (158kB) | Preview |
|
|
Text (BAB I)
BAB I.pdf Download (394kB) | Preview |
|
|
Text (BAB II)
BAB II.pdf Restricted to Registered users only Download (506kB) |
||
|
Text (BAB III)
BAB III.pdf Restricted to Registered users only Download (220kB) |
||
|
Text (BAB IV)
BAB IV.pdf Restricted to Registered users only Download (461kB) |
||
|
Text (BAB V)
BAB V.pdf Restricted to Registered users only Download (176kB) |
||
|
Text (DAFTAR PUSTAKA)
DAFTAR PUSTAKA .pdf Restricted to Registered users only Download (195kB) |
Abstract
Salat merupakan ibadah wajib yang pelaksanaannya telah ditentukan waktunya oleh syariat. Namun, masih banyak umat Islam yang meninggalkan salat fardhu tanpa udzur syar'i sehingga menimbulkan perbedaan pendapat ulama mengenai kewajiban mengqadhanya. Ibnu Hajar al-Haitami mewajibkan qadha salat bagi orang yang sengaja meninggalkannya, sedangkan Imam Ibnu Hazm berpendapat bahwa qadha tidak diwajibkan dan pelakunya harus bertaubat serta memperbanyak amal saleh. Perbedaan tersebut berangkat dari metode istinbath hukum yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1). Pandangan Ibnu Hajar al-Haitami tentang hukum qadha salat fardhu tanpa udzur syar'i. 2). Pandangan Imam Ibnu Hazm tentang hukum qadha salat fardhu tanpa udzur syar'i. 3). Analisis perbandingan dalil dan metode istinbath hukum antara Ibnu Hajar al-Haitami dan Imam Ibnu Hazm mengenai hukum qadha salat fardhu tanpa udzur syar'i. Kerangka berpikir penelitian didasarkan pada konsep bahwa salat merupakan ibadah yang terikat waktu. Perbedaan hukum qadha salat muncul akibat perbedaan metode istinbath yang digunakan kedua tokoh. Ibnu Hajar al-Haitami menggunakan qiyas dan memandang kewajiban salat tetap menjadi tanggungan, sedangkan Imam Ibnu Hazm berpegang pada makna lahiriah nash dan menolak penggunaan qiyas. Penelitian ini menerapkan metode deskriptif analitis komparatif dengan pendekatan normatif melalui penelitian kepustakaan (library research). Sumber data primer dalam penelitian ini adalah kitab Tuḥfat al-Muḥtāj bi Syarḥ al-Minhāj karya Ibnu Hajar al-Haitami dan Al-Muḥallā bi al-Ātsār karya Imam Ibnu Hazm. Adapun sumber data sekunder diperoleh dari kitab-kitab fikih, ushul fikih, hadis, jurnal ilmiah, serta literatur lain yang berkaitan dengan objek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1). Ibnu Hajar al-Haitami mewajibkan qadha salat fardhu tanpa udzur syar'i. 2). Imam Ibnu Hazm berpendapat bahwa qadha tidak diwajibkan bagi orang yang sengaja meninggalkan salat, melainkan diwajibkan bertaubat dan memperbanyak amal saleh. 3). Perbedaan kedua pendapat dipengaruhi oleh perbedaan dalil dan metode istinbath hukum yang digunakan, sehingga menghasilkan kesimpulan hukum yang berbeda mengenai qadha salat fardhu tanpa udzur syar'i.
| Item Type: | Thesis (Sarjana) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Qadha Salat, Salat Fardhu, Udzur syar’i; Ibnu Hajar al-Haitami, Imam Ibnu Hazm; Dalil, Istinbath Hukum |
| Subjects: | Fikih (Fiqih, Fiqh), Hukum Islam Fikih (Fiqih, Fiqh), Hukum Islam > Shalat Wajib |
| Divisions: | Fakultas Syariah dan Hukum > Program Studi Perbandingan Madzhab dan Hukum |
| Depositing User: | sae pisan |
| Date Deposited: | 21 Sep 2026 01:57 |
| Last Modified: | 21 Sep 2026 01:57 |
| URI: | https://digilib.uinsgd.ac.id/id/eprint/142389 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |



