Rizza, Muhamad (2026) Eksplorasi makna kurikulum tahfiz Al-Qur’an: Studi kasus di SMKA Arau Malaysia dan SMA Plus Ulumul Qur’an Al Mustofa Indonesia. Masters thesis, UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
|
Text (COVER)
1_COVER.pdf Download (135kB) | Preview |
|
|
Text (ABSTRAK)
2_Abstrak.pdf Download (218kB) | Preview |
|
|
Text (SUKET BEBAS PLAGIASI)
M. Rizza - Turnitin Pasca.pdf Download (1MB) | Preview |
|
|
Text (DAFTAR ISI)
3_Daftar Isi.pdf Download (186kB) | Preview |
|
|
Text (BAB I)
4_BAB I.pdf Restricted to Registered users only Download (284kB) |
||
|
Text (BAB II)
5_BAB II.pdf Restricted to Registered users only Download (477kB) |
||
|
Text (BAB III)
6_BAB III.pdf Restricted to Registered users only Download (1MB) |
||
|
Text (BAB IV)
7_BAB IV.pdf Restricted to Registered users only Download (624kB) |
||
|
Text (BAB V)
8_BAB V.pdf Restricted to Registered users only Download (128kB) |
||
|
Text (DAFTAR PUSTAKA)
9_Daftar Pustaka.pdf Restricted to Registered users only Download (234kB) |
||
|
Text
Lembar Pernyataan Skripsi_Nira Nurbayani (1).pdf Restricted to Repository staff only Download (301kB) |
Abstract
Muhamad Rizza (2230040114). Eksplorasi Makna Kurikulum Tahfiz Al-Qur’an: Studi Kasus di SMKA Arau Malaysia dan SMA Plus Ulumul Qur’an Al Mustofa Indonesia. Kurikulum Tahfiz Al-Qur’an merupakan salah satu komponen penting dalam pendidikan Islam yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian target hafalan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan penguatan nilai spiritual peserta didik. Namun, dalam praktiknya, kurikulum tahfiz sering dipahami secara sempit sebagai kerangka teknis yang berfokus pada jumlah hafalan dan capaian akademik, sehingga dimensi makna, nilai, dan praktik pendidikan yang melandasinya belum banyak dikaji secara komprehensif. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kurikulum sebagai dokumen formal dan kurikulum sebagai praktik yang dimaknai oleh para pelaku pendidikan dalam konteks kelembagaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi makna kurikulum tahfiz Al-Qur’an dengan menelaah aspek tujuan, nilai, praktik pembelajaran, peran aktor pendidikan, serta tantangan implementasinya pada dua lembaga pendidikan Islam yang memiliki konteks berbeda. Kerangka berpikir penelitian ini didasarkan pada teori konstruksi sosial makna yang memandang kurikulum sebagai hasil interaksi antara nilai, praktik, dan aktor pendidikan dalam suatu lingkungan kelembagaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang dilaksanakan di SMKA Arau Malaysia dan SMA Plus Ulumul Qur’an Al Mustofa Indonesia. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan kepala sekolah, guru tahfiz, dan peserta didik, serta melalui observasi dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dengan menggunakan pendekatan Within-case analysis dan Cross-Case Analysis untuk menemukan pola makna yang muncul pada masing-masing kasus maupun antar kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurikulum tahfiz dimaknai sebagai sistem pendidikan integratif yang tidak hanya berorientasi pada hafalan Al-Qur’an, tetapi juga pada pembentukan karakter Qur’ani dan penguatan nilai-nilai spiritual. Tujuan kurikulum diarahkan pada keseimbangan antara capaian hafalan dan pembentukan kepribadian, sementara nilai-nilai yang mendasarinya tercermin dalam praktik pembelajaran seperti setoran hafalan, murāja’ah, serta pembiasaan adab. Peran kepala sekolah, guru, dan siswa menjadi faktor kunci dalam membentuk dan menjalankan makna kurikulum, sedangkan tantangan implementasi dipengaruhi oleh perbedaan konteks kelembagaan dan sistem pendidikan. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa kurikulum tahfiz Al-Qur’an tidak hanya berfungsi sebagai program hafalan, tetapi sebagai kerangka pendidikan Islam yang holistik, kontekstual, dan berbasis nilai.Eksplorasi Makna Kurikulum Tahfiz Al-Qur’an: Studi Kasus di SMKA Arau Malaysia dan SMA Plus Ulumul Qur’an Al Mustofa Indonesia. Kurikulum Tahfiz Al-Qur’an merupakan salah satu komponen penting dalam pendidikan Islam yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian target hafalan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan penguatan nilai spiritual peserta didik. Namun, dalam praktiknya, kurikulum tahfiz sering dipahami secara sempit sebagai kerangka teknis yang berfokus pada jumlah hafalan dan capaian akademik, sehingga dimensi makna, nilai, dan praktik pendidikan yang melandasinya belum banyak dikaji secara komprehensif. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kurikulum sebagai dokumen formal dan kurikulum sebagai praktik yang dimaknai oleh para pelaku pendidikan dalam konteks kelembagaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi makna kurikulum tahfiz Al-Qur’an dengan menelaah aspek tujuan, nilai, praktik pembelajaran, peran aktor pendidikan, serta tantangan implementasinya pada dua lembaga pendidikan Islam yang memiliki konteks berbeda. Kerangka berpikir penelitian ini didasarkan pada teori konstruksi sosial makna yang memandang kurikulum sebagai hasil interaksi antara nilai, praktik, dan aktor pendidikan dalam suatu lingkungan kelembagaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang dilaksanakan di SMKA Arau Malaysia dan SMA Plus Ulumul Qur’an Al Mustofa Indonesia. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan kepala sekolah, guru tahfiz, dan peserta didik, serta melalui observasi dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dengan menggunakan pendekatan Within-case analysis dan Cross-Case Analysis untuk menemukan pola makna yang muncul pada masing-masing kasus maupun antar kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurikulum tahfiz dimaknai sebagai sistem pendidikan integratif yang tidak hanya berorientasi pada hafalan Al-Qur’an, tetapi juga pada pembentukan karakter Qur’ani dan penguatan nilai-nilai spiritual. Tujuan kurikulum diarahkan pada keseimbangan antara capaian hafalan dan pembentukan kepribadian, sementara nilai-nilai yang mendasarinya tercermin dalam praktik pembelajaran seperti setoran hafalan, murāja’ah, serta pembiasaan adab. Peran kepala sekolah, guru, dan siswa menjadi faktor kunci dalam membentuk dan menjalankan makna kurikulum, sedangkan tantangan implementasi dipengaruhi oleh perbedaan konteks kelembagaan dan sistem pendidikan. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa kurikulum tahfiz Al-Qur’an tidak hanya berfungsi sebagai program hafalan, tetapi sebagai kerangka pendidikan Islam yang holistik, kontekstual, dan berbasis nilai.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Kurikulum Tahfiz; Makna Kurikulum; Pendidikan Islam; Studi Kasus |
| Subjects: | Al-Qur'an (Al Qur'an, Alquran, Quran) dan Ilmu yang Berkaitan Al-Qur'an (Al Qur'an, Alquran, Quran) dan Ilmu yang Berkaitan > Ilmu-ilmu Al-Qur'an Curricula |
| Divisions: | Pascasarjana Program Magister > Program Studi Pendidikan Agama Islam |
| Depositing User: | MUHAMAD MR RIZZA |
| Date Deposited: | 12 May 2026 03:18 |
| Last Modified: | 12 May 2026 03:23 |
| URI: | https://digilib.uinsgd.ac.id/id/eprint/131295 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |



