Hazmi, Muhammad al (2026) Moderasi beragama dalam Tafsir Al-Misbah: Analisis surat Al-Mā’idah ayat 51 dan relevansinya dengan nilai kebangsaaan. Sarjana thesis, UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
|
Text
1_cover.pdf Download (142kB) | Preview |
|
|
Text
2_abstrak.pdf Download (105kB) | Preview |
|
|
Text
3_skbebasplagiarism.pdf Download (227kB) | Preview |
|
|
Text
4_daftarisi.pdf Download (192kB) | Preview |
|
|
Text
5_bab1.pdf Download (294kB) | Preview |
|
|
Text
6_bab2.pdf Restricted to Registered users only Download (581kB) | Request a copy |
||
|
Text
7_bab3.pdf Restricted to Registered users only Download (239kB) | Request a copy |
||
|
Text
8_bab4.pdf Restricted to Registered users only Download (592kB) | Request a copy |
||
|
Text
9_bab5.pdf Restricted to Registered users only Download (198kB) | Request a copy |
||
|
Text
10_daftarpustaka.pdf Restricted to Registered users only Download (154kB) | Request a copy |
Abstract
Penelitian ini mengkaji konstruksi makna moderasi beragama dalam penafsiran M. Quraish Shihab atas QS. Al-Ma’idah: 51 dalam Tafsir Al-Miṣbāḥ menggunakan Hermeneutika Double Movement Fazlur Rahman sebagai metodologi analisis utama dan Teori Keadilan John Rawls sebagai perspektif konfirmatif. Penelitian ini merupakan studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan hermeneutis-deskriptif. Rumusan masalah yang dijawab meliputi: (1) bagaimana Quraish Shihab membangun konstruksi makna moderasi beragama dalam QS. Al-Ma’idah: 51; (2) bagaimana Double Movement diterapkan atas tafsir tersebut; dan (3) bagaimana relevansinya bagi penguatan nilai kebangsaan Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan: Pertama, Quraish Shihab membangun konstruksi moderasi melalui tiga pilar dekonstruksi awliyā’ sebagai patronase politik (muwālāh), bukan pemimpin elektoral; penetapan kondisionalitas larangan dalam situasi konflik aktif; dan afirmasi mu’āmalah sebagai kehendak Al-Qur’an yang secara keseluruhan melanjutkan konsensus mufasir klasik (Al-Ṭabarī, Al-Qurṭubī, Ibn Kathīr) dengan elaborasi metodologis yang lebih eksplisit. Kedua, Double Movement mengidentifikasi ideal moral berupa perlindungan kedaulatan komunal dan solidaritas internal dari ancaman patronase destruktif bukan kebencian sektarian dan mentranslasikannya ke konteks Indonesia sebagai etika integritas kebangsaan yang berlaku tanpa diskriminasi agama. Ketiga, empat indikator moderasi beragama (tawassuth, tasāmuḥ, tawāzun, i‘tidāl) berkorespondensi secara struktural dengan empat pilar kebangsaan, sementara teori Rawls mengkonfirmasi validitas universalnya melalui overlapping consensus dan prinsip equal basic liberties. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tafsir yang tepat menjadikan Islam kekuatan kohesi, bukan sumber fragmentasi dalam kehidupan berbangsa Indonesia.
| Item Type: | Thesis (Sarjana) |
|---|---|
| Additional Information: | tidak ada lampiran |
| Uncontrolled Keywords: | Moderasi Beragama; Tafsir Al-Miṣbāḥ; QS. Al-Māʼidah: 51; Double Movement; Nilai Kebangsaan; Overlapping Consensus |
| Subjects: | Social Theology and Interreligious Relations and Attitudes Islam Al-Qur'an (Al Qur'an, Alquran, Quran) dan Ilmu yang Berkaitan > Tafsir Al-Qur'an Political dan Government Science > Political Ideologies in Indonesia |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin > Program Studi, Studi Agama Agama |
| Depositing User: | Muhammad al Hazmi |
| Date Deposited: | 09 Mar 2026 05:48 |
| Last Modified: | 09 Mar 2026 05:48 |
| URI: | https://digilib.uinsgd.ac.id/id/eprint/128739 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |



