Salima, Gisna (2026) Representasi pengabaian agama dalam film "3: Alif Lam Mim" : Analisis Representasi Stuart Hall. Sarjana thesis, UIN Sunan Gunung Djati.
|
Text (COVER)
1_cover.pdf Download (2MB) | Preview |
|
|
Text (ABSTRAK)
2_abstrak.pdf Download (2MB) | Preview |
|
|
Text (SK BEBAS PLAGIARISM)
3_skbebasplagiarism.pdf Download (760kB) | Preview |
|
|
Text (DAFTAR ISI)
4_daftarisi.pdf Download (2MB) | Preview |
|
|
Text (BAB I)
5_bab1.pdf Download (2MB) | Preview |
|
|
Text (BAB II)
6_bab2.pdf Restricted to Registered users only Download (2MB) | Request a copy |
||
|
Text (BAB III)
7_bab3.pdf Restricted to Registered users only Download (2MB) | Request a copy |
||
|
Text (BAB IV)
8_bab4.pdf Restricted to Registered users only Download (2MB) | Request a copy |
||
|
Text (DAFTAR PUSTAKA)
9_daftarpustaka.pdf Restricted to Registered users only Download (2MB) | Request a copy |
||
|
Text (LAMPIRAN)
10_lampiran.pdf Restricted to Repository staff only Download (2MB) | Request a copy |
Abstract
Film merupakan salah satu media budaya populer yang tidak sekadar berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga mampu mengonstruksi wacana sosial, termasuk wacana tentang peran agama dalam kehidupan masyarakat. Penelitian ini mengkaji bagaimana representasi pengabaian agama dibangun dalam film "3: Alif Lam Mim" (2015) karya sutradara Anggy Umbara. Film bergenre distopia ini menampilkan Indonesia masa depan tahun 2036 yang telah berganti nama menjadi "Libernesia," sebuah negara dengan ideologi ekstrem liberal yang secara sistematis memarginalisasikan agama dari seluruh dimensi kehidupan sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, berlandaskan teori representasi Stuart Hall, khususnya pendekatan konstruksionis yang memandang makna sebagai hasil konstruksi sosial melalui sistem bahasa, simbol, dan praktik budaya. Pengumpulan data dilakukan melalui analisis teks film secara mendalam dan dokumentasi sumber-sumber pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film ini mengonstruksi representasi pengabaian agama melalui empat bentuk utama, yaitu: (1) marginalisasi institusi agama yang tergambar melalui penuduhan Pondok Pesantren Al-Ikhlas sebagai sarang teroris; (2) stigmatisasi praktik keagamaan yang memaksa umat beragama menyembunyikan identitas dan ibadahnya; (3) simbolisme keagamaan dan diskriminasi di ruang publik; serta (4) sekularisasi ekstrem sebagai ideologi dominan yang bekerja melalui mekanisme hegemoni. Makna kultural yang dikonstruksi oleh film ini mencakup kritik terhadap liberalisme ekstrem, penegasan pentingnya agama sebagai bagian dari identitas bangsa, serta peringatan tentang bahaya pengabaian agama bagi kohesi sosial masyarakat. Sebagai medium tabligh, film ini menyampaikan pesan keagamaan secara kreatif melalui pendekatan naratif distopia yang kritis dan reflektif.
| Item Type: | Thesis (Sarjana) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | representasi; pengabaian agama; film; tabligh; distopia |
| Subjects: | Islam > Da'wah Public Performances > Film Reviews |
| Divisions: | Fakultas Dakwah dan Komunikasi > Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam |
| Depositing User: | Gisna Salima |
| Date Deposited: | 15 Jul 2026 02:44 |
| Last Modified: | 15 Jul 2026 02:44 |
| URI: | https://digilib.uinsgd.ac.id/id/eprint/135627 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |



