Wahyudi, Ananta Safaraz (2026) Musik punk sebagai alat perlawanan dalam konflik geopolitik global: Analisis semiotika terhadap lagu Green Day dalam menyuarakan solidaritas kepada Palestina. Sarjana thesis, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung.
|
Text (Cover)
Cover.pdf Download (137kB) | Preview |
|
|
Text (Abstrak)
Abstrak.pdf Download (23kB) | Preview |
|
|
Text (Daftar Isi)
Daftar Isi.pdf Download (177kB) | Preview |
|
|
Text (Bab I)
Bab I.pdf Download (450kB) | Preview |
|
|
Text (Bab II)
Bab II.pdf Restricted to Registered users only Download (238kB) |
||
|
Text (Bab III)
Bab III.pdf Restricted to Registered users only Download (294kB) |
||
|
Text (Bab IV)
Bab IV.pdf Restricted to Registered users only Download (771kB) |
||
|
Text (Bab V)
Bab V.pdf Restricted to Registered users only Download (30kB) |
||
|
Text (Daftar Pustaka)
Daftar Pustaka.pdf Restricted to Registered users only Download (305kB) |
||
|
Text (Lampiran)
Lampiran.pdf Restricted to Repository staff only Download (450kB) |
Abstract
Penelitian ini meneliti tentang bagaimana musik punk, melalui karya Green Day, berfungsi sebagai medium perlawanan dalam konflik geopolitik global, dengan fokus bukan sekadar hiburan melainkan alat komunikasi politik yang mampu menyebarkan ideologi dan pernyataan sikap secara masif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka, di mana data primer diperoleh dari lirik tiga lagu Green Day yaitu American Idiot, jesus of Suburbia dan Holiday, dan dokumentasi dari gestur dan tindakan yang dilakukan oleh Green Day, serta visualisasi video musik dan gestur panggung yang relevan. Analisis dilakukan secara berlapis menggunakan empat kerangka teori: semiotika Roland Barthes untuk membongkar makna denotasi dan konotasi dalam lirik dan visual; teori hegemoni Antonio Gramsci untuk melihat ; teori perlawanan sehari-hari James C. Scott untuk memahami mekanisme hidden transcript dan infrapolitics di balik pesan-pesan tersebut; serta konstruktivisme Nicholas Onuf dan Alexander Wendt untuk menjelaskan potensi pembentukan norma dan identitas kolektif melalui pengulangan tindakan performatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa meskipun ketiga lagu lahir dari konteks kritik terhadap invasi Irak dan kampanye War on terror tema anti-perang, kritik konformitas dan penolakan terhadap propaganda di dalamnya dapat direkontekstualisasikan sebagai media solidaritas terhadap Palestina. Penelitian ini menyimpulkan bahwa musik punk memiliki potensi sebagai salah satu alat dan aktor non-negaradalam membbentuk wacana global, meski diperlukan penguatan buktii empiris untuk mengaitkan karya lama dengan isu temporer secara lebih meyakinkan.
| Item Type: | Thesis (Sarjana) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Musik Punk, Green Day; Semiotika, Hegemoni; Perlawanan Sehari-Hari; Konstruktivisme; Palestina |
| Subjects: | Culture and Institutions Political dan Government Science > Political Propaganda |
| Divisions: | Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Program Studi Ilmu Politik |
| Depositing User: | Muhammad Ananta Safaraz Wahyudi |
| Date Deposited: | 28 Aug 2026 06:49 |
| Last Modified: | 28 Aug 2026 06:49 |
| URI: | https://digilib.uinsgd.ac.id/id/eprint/140015 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |



